Kumpulan Cerpen Siswa


Harapan untuk Mas Galang
Arini Izzataddini

 
  “Zita, ayo tidur sayaang. Sudah jam setengah sepuluh niih. Memangnya besok kamu tidak sekolah ? Ayo cepat tidur Zita” Mama menyuruhku tidur sambil berlalu ke kamarnya. “ Iya maa.” Ujarku yang sedang menonton sinetron kesukaanku. Aku matikan tivi dan naik tangga menuju kamarku.
  Aku langsung naik ke kasurku untuk tidur. Karena aku sudah mulai mengantuk. Tapii. Kok aku nggak bisa tidur ya ? Seperti ada yang kurang. Oh iya ! Aku lupa menulis diary. Kebiasaanku setiap sebelum tidur adalah menulis diary. Tapi kenapa sekarang aku lupa ya ?
   Aku langsung mengambil diaryku di lemari dan mulai menulisnya.
 
Dear Diary,
Hari ini, aku punya satu cerita yang mengaharukan tentang sepupuku sendiri.. Mas Galang namanya.
  Pada tahun 1995, lahir 5 orang anak dari lima pasang suami istri. Ibu-ibu yang melahirkan berasal dari satu keluarga besar yang sama. Kakek dan Nenek sangat bahagia. Mereka langsung memiliki 5 cucu sekaligus di tahun itu. Galang, Dimaz, Agung, Rania dan aku. Mereka lahir normal dan sehat. Itu terjadi lima belas tahun yang lalu..
   Di tahun ajaran ini, kami berlima seharusnya akan menjalani UAS-BN. Empat  anak diantara kami telah bersiap-siap untuk melakukannya. Tapi satu anak lagi? Ia hanya bisa di rumah melakukan kegiatan yang tak menentu…
Ya, mas Galang namanya. Putra ketiga dari kakak ayahku yang tertua. Dia menderita autis. Mamaku masih suka bercerita bahwa pada tahun pertama, mas Galang terlihat sebagai anak yang paling sehat diantara kami. Tinggi besar, tampan, dan sangat aktif. Tapi makin lama, makin terlihat bahwa dia tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik.
   Saat ini, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Karena masih belum dapat berkomunikasi dengan baik. Bahkan belum dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menunjukkan kemandiriannya. Jadi selama ini bude dan Pakdeku sangat memproteksi dirinya. Memang kasihan mas Galang, orang tuanya bukan orang yang berpunya. Bahkan….rumahnya di pinggir sekaligus di atas sungai. Rumah yang sungguh membahayakan untuk kondisi mas Galang yang seperti ini. Aku ingin menangis jika aku berkunjung ke rumahnya. Wilayahnya tidak layak dan rumahnya bukan seperti rumah melainkan gudang kecil.
   Usaha-usaha orangtuanya sedikit membuahkan hasil. Ayahnya belum punya pekerjaan tetap. Hanya seorang perangkai dan penjual bunga yang tak selalu mendapat order untuk dikerjakan. Kakaknya masih kelas 11 sekarang. Mas Galang punya satu kakak lagi, yang sedang bekerja di Filipina. Dan ia satu-satunya tulang punggung  di keluarga itu. Selain keadaan mas Galang yang mengkhawatirkan, ibunya lebih mengkhawatirkan. Bude Lina, jika kupanggil dirinya, terkena Thalasemia hingga saat ini. Uang mereka tak cukup untuk menyembuhkan Bude Lina dan melaksanakan terapi autis mas Galang sekaligus.
   Anaknya tampan dan selalu ingin tahu. Kini, ia sudah mulai dapat sedikit berbicara walaupun belum mampu berfikir jelas. Mas Galang sudah tumbuh lebih tinggi dari aku, Dimaz, Agung,dan Rania. Tapi walaupun begitu, keadaan non fisiknya jauh tertinggal dari kami. Tidak pernah ada yang menduga, karena Mas Galang terlahir normal dan sama seperti kami semua.
   Papaku bilang, dulu keluarga nenek tidak mampu. Sebagai kakak pertama, Bude Lina menjadi tulang punggung keluarga. Ia tak sekolah hingga S1. Langsung saja bekerja. Jadi, beliau sekolahkan adik-adiknya. Memang, seluruh keluarga besar kami saat ini telah turut membantu ekonomi keluarga bude, namun karena masing-masing memiliki tanggungan keluarga yang juga tidak sedikit, maka bantuan bagi mas Galang masihlah jauh dari kebutuhan. Menghidupi keluarga sehari-hari, membantu pengobatan mas Galang, dan bude Lina sekaligus.
   Harapanku, mas Galang dapat sembuh dan dapat bermain dan belajar bersama kami, atau paling tidak, dia mampu membantu dirinya sendiri, sehinga dapat menjadi manusia yang mandiri, dan kelak tidak bergantung pada orang lain. Aku ingin sekali mas Galang dapat menjalani terapi yang Intensif, agar kondisi itu dapat terwujud. Dan aku ingin bude Lina berkurang beban hidupnya, sebagaimana yang selalu beliau rasakan selama ini….. Ini adalah Harapanku.
****
“Hoaam. Sudah pukul 22.30” ujarku sambil melongok ke jam weker yang diletakkan di samping tempat tidurku. “ Lama sekali ya aku menulis diary.” Kataku sambil menaruh kembali buku diaryku lalu naik ke kasur dan menarik selimut. “Hhh, semoga harapanku untuk mas Galang dapat terkabul Ya Allah” Aku pun memejamkan mataku setelah berdoa untuk mas Galang. Amiin.

Jodoh Sang Guru
(By: Fida Amatullah)

 “Ciye… bapak” sorak anak-anak menyambut kedatangan Pak Arlin, guru matematika yang memasuki kelas.
“Memangnya kenapa?” Tanya Pak Arlin setelah meletakan tasnya di atas meja guru.
“Tadi Bu Nida lewat pak” lapor Erna.
“Eh, iya gitu” Pak Arlin langsung menoleh ke jendela di sebelah meja guru, membuat anak-anak semakin heboh.
“Eaa…” sahut anak-anak berbarengan. Pak Arlin hanya tersenyum, dan terlihat semburat merah di wajahnya.
“Ya, sekarang kalian duduk” pinta Pak Arlin.
“Kita udah duduk!!” jawab anak-anak serempak.
“Baik, saya ucapkan terima kasih karena kalian telah duduk rapih. Sekarang kita akan melanjutkan materi kita kemarin” Pak Arlin pun mengambil spidol dan mulai menjelaskan.
Yah, menurutku beginilah resiko jika Pak Arlin (Dan para bapak guru terhormat lainnya) mengajar di sekolah berasrama putri yang tentunya satu sekolah semuanya berstatus siswi-siswi (Ya iyalah.. kalau siswa mah beda lagi). Pasti bakal jadi ‘sasaran’ siswi-siswinya.
Apalagi, angkatan aku lagi masa-masanya ‘mengekspresikan diri’ dan di antara semua kelas 8, kelas ku lah yang paling ‘jago dan ngocol’ dalam hal ini. Bahkan protes dengan pak guru, kelas ku jagonya.
 Sekarang balik lagi ke kelas. Ketika Pak Arlin memberI kami tugas. Tiba-tiba anak kelasku, Hera menyeletuk.
“Pak, kok bapak nggak melamar Bu Nida sih?” Tanyanya polos. Sekejap kelas menjadi heboh dengan pertanyaan.
“Sst..” Yulia, ketua kelas sekaligus anak BEM menaruh telunjuk di depan mulut. Kami pun terdiam, oh iya ini adalah rahasia kelas kami.
Ceritanya, dua hari yang lalu anak kelas kami sedang pusing gara-gara habis ujian fisika yang soalnya 30% sadis. Terus ketika pelajaran Matematika, kami mendesak Pak Arlin untuk ‘curhat’ ke kami anak kelas 8-6. Lumayanlah, cerita guru-guru bisa menghibur kami. Habis bayangkan sehabis fisika pelajaran matematika, gimana nggak stress tuh anak kelas?
Akhirnya Pak Arlin bercerita tentang latar belakangngya, keluarganya. Dan ternyata beliau ikut silat! Pantas saja badan beliau rada liat dan lincah begitu. Lho, gini-gini aku juga anak silat lho, ya.. walaupun baru tingkat paling dasar sih. Maklum baru tahun ini aku gabung. Sebenarnya mau dari SD, tapi nggak pernah jadi.
  Dan Pak Arlin pun menceritakan tentang seorang akhwat (jiah..) yang beliau suka. Sebenarnya Pak Arlin Cuma sedikit cerita dan nggak mau menyebutkan nama akhwat yang merebut hati Pak Arlin. Hingga akhirnya kami main ‘tebak-tebakan’ dengan Pak Arlin dan dengan berat hati Pak Arlin menyebutkan huruf depannya. Dan kami berhasil menebak!
Aku dan anak kamarku yang satu kelas Rena dan Fira terkejut ketika mengetahui ternyata orangnya murobbi kami!
“Beliau murabbi kami Pak!” seru ku.
“Eh iya gitu?” Tanya Pak Arlin. Kami mengangguk.
“Wah, kalau begitu kalian jangan bilang ke orangnya ya” pinta Pak Arlin kepada kami. Aku, Rena, dan Fira meangguk.
“Kalian, tolong jangan bocorkan ini kepada siapa-siapa ya. Soalnya tahun depan bapak masih di sini yaa. Walaupun mungkin saja bapak mengajar di putra. Tapi bapak malu juga kalau true story bapak ketahuan” pinta Pak Arlin.
“Jiah, true story. Eh love story pak” Febi langsung membetulkan ucapannya.
“Terus kenapa bapak nggak melamar Bu Nida aja?” Tanya Nusaibah alias ibah.
“Bapak sudah mengutarakan ke murabbi bapak. Sekarang tinggal menunggu berita dari murabbi” jelas Pak Arlin. Kami mengangguk.
“Semangat pak!” kata kami. Pak Arlin mengangguk dan tersenyum.
-_-
“Semuanya rentangkan tangan” perintah Teh Aulia. Kami pun merentangkan tangan. Aula terasa luas karena hanya ada kami berdelapan plus Teh Aulia jadi bersembilan.
“Mulai pemanasan..” kami pun mulai pemanasan. Setelah itu kami latihan tendangan berpasangan, dan teh Aulia mengajarkan kami mensirkel yaitu memutar kaki membentuk lingkaran  untuk m enjegal lawan. Saat lawan menendang lah paling tepat untuk menyarangkan tendangan sirkel. Kita pun berjongkok dan memutarkan kaki kita ke arah depan atau belakang terserah kita.
“Coba, kalian ambil matras di sebelah sana dan kalian latihan sendiri-sendiri” perintah teh Aulia menunjuk tumpukkan matras kecil di sudut. Kami mengambil satu-satu dan berlatih sendiri-sendiri.
Mau promosi nih. Teh Aulia itu pelatih kami, aku ingat pertama kali ekskul saat pramuka. Mendadak aku di panggil, sebenarnya ada delapan (awalnya) namun karena hanya aku satu-satunya anak kelas delapan sedangkan kelas tujuh belajar pramuka di tempat terpisah. Akhirnya aku kelimpungan mencari mereka, yaa… berusaha menjadi senior yang baiklah. Minggu sebelumnya aku mengumpulkan mereka, namun karena pelatihnya belum datang kami pun ngumpul-ngumpul saja.
Dari segi fisik udah nyangka sih kalau Teh Aulia orangnya lincah. Teh  Aulia orangnya tingginya sedang tapi langsing. Dan ternyata… Teh Aulia pernah memenangkan medali emas di kejurnas dua kali! Aku lupa kapan dan tempatnya. Yang jelas teh Aulia keren deh.
Setelah berlatih sendiri-sendiri kami dites tendangan dan sirkel oleh Teh Aulia. Dan setelah itu kami istirahat sebentar.
“Teteh, kok bisa sih langsing?” Tanya ku. Maklum berat badanku kelihatan kelebihan nih.
“Ah, kamu udah keliatan ideal kok. Ngapain di kurusin lagi?” Teh Aulia balik bertanya.
“Yah, dikiit lagi” jawab ku.
“Teh, kapan nikah?” Tanya Ulya adik kelasku iseng.
“Yahh…may” jawab Teh Aulia.
“Iya teh??” mata kami membulat.
“Maybe..” jawabnya sambil nyengir. Dan kami pun manyun.
“Yahhh teteh..”  jawab kami kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti.
“Jodoh sih ada tapi..”
“Tapi di lauh mahfudz kann??” jawab kami serempak.
“He-eh, lagian kalau ada yang mau ngelamar teteh nggak boleh orang sembarangan” kata teh Aulia.
“Huuh, teteh pede euy!” sahut Tera tetangga kamarku. Oh iya, Tera dan Silvi ikut bergabung dengan kami sebulan yang lalu. Jadi kami ada bersepuluh.
“Iya dong, ntar yang jadi suami teteh harus siap menerima apa adanya. Dan tidak boleh melarang teteh untuk melanjutkan silat. Salah satu cita-cita teteh yaitu membentuk kader peremuan.Lagian di sini kan pelatih perempuan jarang. Di angkatan teteh yang awalnya ada 200 orang menyusut jadi bertiga” Teh Aulia pun bercerita tentang teman-temannya. Ada yang silatnya sudah bagus tapi tidak di perbolehkan oleh suami, ada yang diijinkan tapi sedang hamil jadi tidak bisa terlalu banyak bergerak. Dan lain-lain.
“Makanya, abah juga setuju sama teteh, karena jangan sampai nggak ada kader perempuan yang meneruskan silat ini atau menyebarkannya. Ya… kalau bapak teteh mah menyerahkan saja ke Teteh” jelas Teh Aulia.
“Abah siapa teh?” Tanya Silvi.
“Itu, pelatihnya Teh Aulia” jawab Jihan 
“Teh, kalau dapat jodohnya di sini gimana?” Jihan angkat bicara. Dan teh Aulia hanya meangkat bahu.
“Pak Bima?”
“Pak Ahmad?”
“Pak Arlin?” dan semua nama-nama pak guru pun di sebut.
“Udah-udah, Pak Ahmad kan udah punya Bu Hana” sela Silvi.
“Eh, maksudnya gimana?” Tanya Teh Aulia.
“Tuh kan teteh, banyak lho guru-guru sini yang cinlok lalu nikah” ujar Farras.
“Sudah, jangan ngomongin hal itu terus, nggak bagus” tegur Teh Aulia.
“Kita lanjutkan latihan” TehAulia lalu bangkit kami pun mengikutinya. Dan kami melanjutkan latihan hingga ashar.
-_-
Aku berpikir tampaknya topic ‘cinlok guru’ menjadi pembicaraan tersendiri. Aku juga baru nemuin ini pertama kali di SMP. Siang ini, semilir angin membawa rambutku yang tidak tertutupi jilbab sedikt mengibar. Enak juga sih dapat kasur dekat jendela. Yaah, walaupun   resikonya bisa di lihat bapak-bapak apalagi sama anak seberang (Ngertikan maksudnya??) di depanku terdapat selembar diary yang siap untuk ku isi.
Dear diary
Aku baru nemuin ‘cinlok’ guru di sini lho… di SD aku nggak nemuin nggak tahu deh kalau sekarang. Tapi kok ngeliatnya seru ya? Aku jadi heran sendiri. Tapi biar deh, anggap aja tontonan menarik (Aduh, kok parah beudh).
Aku pun menutup diary itu dan menyimpannya di eksel sebelah kasurku. Aku merasa ngantuk, aku terbaring dan perlahan aku tertidur.
-_-
“Bapak udah ngirim lamaran belum ke Bu Nida?” Tanya kami ketika pelajaran Pak Arlin. Tadi baru saja terjadi ulangan beruntun yaitu ulangan Biologi dan Bahasa Inggris( Sebel ma Pak Amir soalnya susah beudh). Dan anak-anak tersandar kelelahan. Namun Pak Arlin hanya menggeleng lemah.
“Sayangnya bapak terlambat. Dari Murabbi bapak di beri tahu kalau bunda tersebut sudah di lamar” tampang Pak Arlin terlihat sedih.
“Waah bapak sabar ya!!” seru kami kompak. Pak Arlin meangguk.
“Terima kasih, bapak sangat menghargai perhatian kalian. Doakan saja bapak semoga bisa mendapat yang lebih baik” jelas Pak Arlin di sambut koor ‘Amiin’ dari kami.
-_-
 “Oi Trevi” aku dan Kayla yang habis belanja di mini market menoleh. Teh Aulia berajalan santai  menghampiri kami.
“Ngapain teh?” Tanya ku. Kan latihan hari Jum’at.
“Kan mau sleksi buat POPDA Kabupaten” jawab Teh Aulia, sebuah Ipod menyembul dari balik jilbabnya.
“Hah, sekarang teh??” Tanya ku kaget.
“Iya, mau kapan lagi? POPDA tuh sebentar lagi tahu” jawab Teh Aulia berjalan. Kami mengikuti jalan Teh  Aulia yang cepat.
Ketika kami berada di samping gedung sekolah. Terdapat beberapa guru yang berjalan sambil menenteng rantang. Yang aku tahu beberapa ada yang satu rumah.
Kami pun melewati gerombolan tersebut. Ketika sudah terlewati, Teh Aulia mendadak berhenti dan menoleh ke arah belakang. Aku dan Kayla ikut-ikutan berhenti.
“Kenapa teh?” tanyaku
“Ehm, nggak kok” Teh Aulia kembali berjalan. Aku dan Kayla pun mengikuti. Tak lama kami sampai di komplek asrama.
“Teh, aku ke kamar dulu. Mau siap-siap” pintaku.
“Ya sudah, ngumpul di lapangan” aku dan Kayla pun berlalu dan menaiki tangga menuju kamar. Di kamar ternyata sepi, mungkin yang lain sedang menyuci.
“Eh, Teh Aulia cantik ya?” komentar Kayla.
“Memangnya kenapa gitu?” Tanya ku. Aku memasukkan belanjaan ke tempat masing-masing.
“Soalnya pasti banyak yang suka” sahut Kayla iseng.
“Ah, ngaco kamu!” aku melepas jaketku dan tersisa baju lengan pendek. Aku pun memakai baju seragam silat.
“He..he… nggak tahu ding. Tapi kayaknya ada yang something tuh”
“Hah” aku menoleh kepada Kayla yang duduk di pinggir ranjangnya.
“Iya, cinlok pada pandangan pertama. first sight”
 “Sebutin, siapa guru yang kamu maksud” aku duduk di samping Kayla.
“Eit rahasia, nggak boleh tahu” Kayla menggelengkan kepala main-main.
“Kayla please, Teh Aulia guruku juga. Jadi aku harus tahu siapa yang kamu maksudkan” seruku memaksa.
“Iya deh anak kesayangan” Kayla memalingkan muka.
“Apaan sih?” gerutuku.
“Terus, kalau kamu tahu gimana?” tanyanya. Aku berpikir sejenak.
“Aku nggak bakal bilang ke siapa-siapa. Lagi pula bisa aja itu kebetulan” aku berdiri.
“Cepetan, aku harus ngumpul nih. Mumpung kamar masih kosong” Kayla pun menoleh.
“Ya sudah, tapi jangan di sebarin. Ini Cuma dugaan ku aja” aku menghampiri Kayla. Kayla membisiki ku sesuatu.
“Ooh” aku berdiri dan langsung keluar. Tak ku pedulikan gerutuan Kayla.
-_-
Hari ini POPDA kabupaten dimulai. Aku sedang mengamati sebagian kecil anak silat yang lolos sleksi berlatih di luar. Namaku tidak masuk dalam list lolos sleksi. Walaupun pertandingan bukan hari libur, tapi aku diperbolehkan ikut, yaa. Hitung-hitung sebagai supporter.
Tapi aku merasa bosan, hingga aku memutuskan untuk jajan di lapangan futsal belakang GOR. Tidak masalah jauh, aku memang ingin jalan-jalan.
Aku berjalan sembari memandangi kesibukan pagi itu. Terlihat beberapa anak sekolah memakai seragam olahraga sedang berlari mengikuti gurunya. Aku juga melihat tim silat yang lain pemanasan di pinggir gor.
“Satu..dua..” aku menoleh, tampak segerombolan berlari melewatiku. Ada yang memakai baju biasa, ada juga yang memakai baju silat berwarna hitam tanpa sabuk. Aku menepi untuk memberi mereka jalan.
“Eh, kamu Trevi kan? Anak As-Salam kelas 8-4 ” aku menoleh. Ternyata Pak Arlin, beliau memakai baju silat berwarna hitam dengan sabuk berwarna hijau. Eh, tapi bukannya hari ini ada pelajaran matematika?
“Sendirian?” Tanya Pak Arlin yang awalnya berlari-lari kecil sekarang berjalan menjajari ku.
“Iya pak, kok bapak ada di sini sih? Bukannya hari ini 8-4 ada matematika?” Tanya ku.
“Sudah bapak kasih tugas lewat meja piket. Kamu sendiri kenapa ada di sini? Kamu kan harusnya sekolah?” Pak Arlin membalikkan pertanyaan. Aku menjawab dengan gelengan.
“Saya sama beberapa ikut jadi supporter, kebetulan ada teman-teman yang hari ini tanding.  Bapak sendiri?” jawabku.
“Saya di suruh damping anak-anak silat A tanding. Wah, hebat dong anak as-salam ada yang ikut tanding. Pantas tadi saya melihat beberapa muka yang familiar, dan ada wali asrama Bu Farida yang mendampingi. Siapa Pelatihnya?” Tanya Pak Arlin.
 “Banyak sih, tapi yang saya tahu cuma Teh Aulia”jawab ku.
“Arlin cepetan! Lama banget!” suara cempreng berbahasa Sunda mengagetkanku. Ternyata seorang perempuan dewasa memakai kaos berteriak memanggilnya.
“Bapak duluan ya” Pak Arlin langsung berlari menuju kerumunan tersebut. Sedangkan aku menuju jajanan pinggir jalan.
“Kak, itu bukannya Pak Arlin ya? ” Tanya Jihan sekembali membeli jajan.
“Iya, itu orangnya” Silvi menunjuk seseorang yang berdiri di belakang kerumunan.
“Widi ngapain?” tanyaku. Terlihat Widi sedang berlari kecil di pandu oleh Kak Erin.
“Suruh nurunin berat badan kak” jawab Jihan. Aku menghembuskan nafas.
“Vi, punya makanan nggak?” Tanya Tera  menghampiri ku. Aku meangguk.
“Aku mau beli dong” pinta Tera.
“Kenapa?” tanyaku.
“Berat badan ku kurang nih. Di suruh makan” jawabnya. Aku mengeluarkan roti dari bungkusan plastic di tas dan mengangsurkannya pada Tera.
“Simpan saja buat nanti. Giliranmu masih lama kan?” Tanya ku.
“Makasih Tre! Uangnya ntar ya” Tera pun berlari ke tempatnya semula.
Pertandingan pun dimulai. Lawan saling disesuaikan berat badan, makanya berat badan dikelompokan secara abjad berdasarkan berat badan. Yang mendapat giliran pertama dari tim kami adalah Farras. Lawannya adalah seorang anak perempuan yang rambutnya di kepang. Dan berasal dari silat A.
Setelah menimbang berat badan. Farras menempati lingkar merah sedangkan anak itu lingkar biru. Masing-masing mendapat pengarahan. Pak Arlin ikut mengarahkan dengan perempuan bersuara cempreng tadi. Sedangkan Bu Farida dan A Imat berada di lingkar merah bersama dengan Farras.
“Wah pertandingan antar guru As-Salam pasti seru” desis Tera yang berada di sebelahku. Aku meangguk.
Di situ terdapat beberapa wasit, tiga orang wasit duduk di kursi yang tersebar. Dan seorang wasit lapangan berjalan ke tengah dan memanggil kedua peserta untuk pengarahan. Pertandingan di mulai di tandai dengan di bunyikan gong. Keduanya mulai beraksi dengan memainkan seninya. Setelah berhadapan dengan membentuk kuda-kuda. Mereka mulai beraksi.
Aku tidak menceritakan pertandingan tersebut secara detail. Yang jelas terdengar suara heboh supporter yang di seberang berbanding terbalik dengan tim kami yang terkesan adem ayem. Walau kami (anak as-salam) gondok juga dengan tim silat A habis berisik banget terkesan menganggu. Namun anak Al-Hikmah terlihat biasa saja.
 Pertandingan berdurasi tiga menit itu berakhir. Farras terkapar kelelahan di samping A Imat dan Bu Farida. Setelah mengatur nafas sejenak. Wasit lapangan yang nota bene perempuan (Tapi Bukan Teh Aulia, sepertinya dari perguruan lain atau IPSI?). memanggil mereka berdua. Ketiga wasit yang duduk di kursi memegang kedua bendera. Oh iya, saat Farras mengatur nafas. Para wasit berkumpul di sebuah meja tempat beberapa wasit (Termasuk ketuanya) sembari mengumpulkan hasil penilaian masing-masing.
Farras dan anak itu berdiri di kanan dan kiri wasit perempuan. Dan kedua tangan wasit memasang pergelangan masing-masing.
“Dan yang lolos dalam babak ini adalah…” dan sang wasit mengangkat tangan.. anak itu. Keputusan itu di perkuat dengan para juri mengangkat bendera warna biru. Akhirnya Farras kalah.
Dari tim kami, 4 orang berhasil lolos menuju POPDA Provinsi. Dan dari sekolahku hanya Jihan yang berhasil lolos. Tim kami beristirahat di masjid dekat GOR.
“Wuah, capek!” Tera meregangkan tangannya, dia pun tiduran.
“Lihat aja, Farras sampai tidur beneran” Jihan menunjuk Farras yang tertidur. Aku bangkit.
“Mau kemana kak?” Tanya Jihan.
“Mau ambil udara segar” jawabku. Aku pun duduk-duduk di selasar masjid.
“Hei, boleh aku duduk di sebelah mu?” aku menoleh. Seorang anak perempuan yang kukenali dia tim silat A. aku meangguk, dia pun duduk.
“Tampaknya dari wajahmu kamu bukan asli sini ya?” tanyanya. Aku mengguk.
“Jadi rata-rata tim mu bukan orang sini?”tanyanya lagi.
“Ya Rata-rata, aku orang Bekasi, yang lain ada yang dari Jakarta,Pangkal pinang, Bandung, dan lain-lain. Kalau anak Al-Hikmah aku tidak tahu. Yaaa..kami beragam soalnya memang tim ini terdiri dari sekolah berasrama. Tapi ada juga kok anak sini” jelasku.
“Kalian anak Pesantren?” Tanyanya lgi.
“Sebenarnya anak sekolahku nggak bakal mau dibilang pesantren maunya di bilang boarding atau asrama. Tapi mau gimana lagi?” aku meangkat bahu.
“Oh iya kenalkan, aku Ratna. Kamu?” tanyanya.
“Trevi” jawabku.
“Wah, namamu keren juga. Oh iya, kamu nak mana?” Tanya Ratna.
“Aku anak As-salam” jawabku.
“Ya! Kamu kenal sama Pak Arlin nggak? Beliau katanya ngajar di situ, dan Pak Arlin itu  pelatih di silat A” Tanya Ratna. Aku meangguk.
“Ya, aku kenal. Beliau ngajar Matematika, kenapa?” aku balik bertanya.
“Bisa dibilang sih, beliau paling alim dan paling baik di antara pelatih-pelatih yang lain. Juga paling cakep” kata Ratna sambil nyengir. Aku meangguk, memang sih. Kata orang-orang, Pak Arlin paling alim di rumahnya (Rumah bujang, soalnya belum nikah di situ biasanya ditinggali oleh beberapa orang. Klo Ibu guru selain wali asrama ada juga yaitu rumdis alias rumah gadis). Tapi kalau paling ganteng? Nggak tahu deh jangan nanya ke saya.
“Eh, di sekolahmu Pak Arlin diledekkin nggak? Maksudnya di jodoh-jodohin” dia berkata cepat sebelum aku menyelanya. Aku terdiam sebentar, lalu menggeleng.
“Rasanya tidak, lagi pula kalau memang ada kau pasti tidak kenal kan?”
“Iya-ya” dia pun meangguk.
“Gini, soalnya Pak Arlin itu satu-satunya pelatih yang belum nikah. Yang lain udah nikah bahkan udah punya anak. Teh Fera aja mau nikah bulan depan. Oh iya, kata Teh Ami Pak Arlin pernah suka sama atlit sini pas kejurnas” Ratna mulai bercerita. Aku mulai tertarik.
“Teh Ami adiknya Pak Arlin bukan?” tanyaku.
“Kok kamu tahu?” Ratna balik bertanya.
“Pak Arlin pernah cerita. Katanya ibunya Pak Arlin menikah lagi gara-gara bapak Pak Arlin meninggal gara-gara kecelakaan waktu masih kecil. Akhirnya lahir Teh Ami ” ceritaku.
“Yup betul! Terus Pak Arlin suka sama atlit itu tapi Pak Arlin kuliah di Surabaya. Terus dua tahun lalu Pak Arlin pulang terus ngelatih di sini tapi….”
“Eh, katamu Pak Arlin baru ngelatih setahun terakhir, ops maaf” aku menutup mulut menyadari aku telah menyela pembicaraan orang.
“Makanya dengerin dulu. Terus Pak Arlin ngelamar orang itu tapi ditolak sama bapak angkatnya. Alasannya sih masih kuliah, terus perempuannya belum siap dan masih focus sama pertandingannya juga anak-anak binaannya. Pak Arlin patah hati dan pergi ke Bandung, katanya sih ngajar. Dan tahun kemarin Pak Arlin balik lagi” Ratna mengakhiri ceritanya.
“Jadi begitu ceritanya” Aku meangguk.
“Ratna! Kemana aja kamu?” kami menoleh. Sesosok remaja berjilbab berjalan menghampiri kami.
“Maaf teh, lagian dari tadi aku duduk di sini. Teh, ini muridnya Pak Arlin di As-salam. Trevi, ini Teh Ami adiknya Pak Arlin” Ratna memperkenalkanku kepada temannya yang ternyata Teh Ami adik Pak Arlin.
“Hei,kamu muridnya Aa Arlin di As-salam ya? Kelas berapa?” tanyanya ramah.
“Aku kelas 8 , kakak kelas berapa?” Tanya ku.
“Ooh, aku kelas 10. Ratna juga kelas 8” jawab Teh Ami.
“Kak, aku cerita tentang orang yang disukai Pak Arlin. Yang Pak Arlin patah hati sampai lari ke Bandung” kata Ratna.
“Huss jangan fitnah deh! Lagian A Arlin nggak patah hati. Kebetulan A Arlin memang keterima ngajar di SMA sana. Terus pindah deh ke As-Salam” Teh Ami menutup ceritanya.
“Trevi!!” aku menoleh.
“Eh, aku duluan yah” aku pamit lalu bangkit.
“Trevi, punya nope nggak?” Tanya Ratna. Nope artinya nomor HP.
“AKu nggak punya” jawabku sambil menggeleng.
“Kalau FB?” tanyanya lagi.
“Punya kertas?” tanyaku.
“Nih, pakai HP aja” Ratna mengangsurkan HP. Aku mengetikkan sesuatu.
“Nih alamat e-mailnya udah ya” aku melambaikan tangan dan berlari menghampiri teman-teman.                  
-_-
Esoknya…..
“Anak-anak, kumpulkan tugas yang bapak berikan lewat meja piket kemarin” perintah Pak Arlin. Teman-teman mengumpulkan buku masing-masing, aku pun termasuk. Semalam aku bertanya pada Rena dan Fira.
“Kemarin aku ketemu Pak Arlin” kataku.
“Di mana?”Tanya Fira.
“Pas tanding POPDA kemarin” jawabku.
“Memangnya Pak Arlin ngapain?” sahut Yeni anak kamarku yang lain.
“Katanya Beliau damping tim silat” jawabku.
“Tim silat TS?” Tanya Fira. Maksudnya ekskul ku.
“Bukan, tim silat A. lawannya TS” jawabku.
“Wah, parah banget tuh. Bukannya ngedukung murid sendiri” kata Rena sambil menggelengkan kepala.
“Sudahlah, lagian Pak Arlin udah lama di situ. Terus aku juga ketemu sama adiknya Pak Arlin”
“Ooh, yang Teh Ami itu ya? Cantik nggak?” Tanya Fira.
“Cantik sih..” kataku.
-_-
“Pak, kata Trevi dia ketemu bapak di GOR waktu POPDA” sahut Fira sebelum Pak Arlin mulai mengajar.
“Ya, bapak ketemu Trevi juga anak-anak As-salam lain. Bagaimana pertandinggannya Trevi?” Tanya Pak Arlin.
 “Jangan Tanya ke saya pak. Tanyakan saja pada teman-teman yang ikut tanding. Tapi memang pada gregetan” jawabku. Pak Arlin pun tertawa.
“Yah memang begitulah. Bapak salut kepada anak As-Salam yang bisa mewakili silat” tiba-tiba Pak Arlin terdiam.
“Kenapa pak?” Tanya anak kelas heran. Pak Arlin menghela nafas.
“Sebenarnya saya tidak ingin menceritakan kepada kalian. Namun karena sudah terlanjur ya…” perkataan Pak Arlin menggantung.
“Cerita aja pak, kita bisa jaga rahasia kok” kata Tiwi di sertai anggukan yang lain.
“Begini, kemarin saya menemukan perempuan yang sempat menghilang dalam hidup saya. Bisa di bilang saya menyukai perempuan tersebut”
“Wah pak, Bu Nida mau di kemanain pak?” Tanya Dela.
“Iya pak, kasihan Bu Nida tuh” sahut yang lain ikut-ikutan.
“Eh, Bu Nida itu akan menjadi milik orang lain. Lagi pula bapak menyukai perempuan ini sebelum bapak menyukai Bu Nida..”
“Jiah..” sahut anak-anak kompak.
“Pertama kali bapak bertemu dengan perempuan itu saat pertandingan kejurda. Lalu bertemu kembali saat sama-sama mewakili provinsi dalam Kejurnas. Setelah Kejurnas, bapak ingin melamarnya namun di tentang oleh orang tua angkat juga kandungnya karena masih terlalu muda dan masih kuliah. Setelah itu bapak di terima di sebuah SMA di Bandung dan mengajar di sana selama setahun. Setahun kemudian bapak memutuskan untuk pulang, dan bapak mengirimkan lamaran ke sini. Setelah di terima bapak pun pulang ke sini. Setiap dua hari sekali bapak menjenguk keluarga bapak di daerah sini” Pak Arlin istirahat sebentar. Sedangkan kami mendengar dengan minat.
“Dan ternyata bapak bertemu dengan perempuan itu di tempat dan waktu yang tidak terduga. Terakhir bapak melihat, perempuan itu terlihat gagah namun tetap cantik dalam pakaiannya juga kerudungnya sangat cocok dengan perempuan itu” Pak Arlin tampaknya mengakhiri ceritanya.
“Terus bapak mau melamar lagi?” Tanya Tiwi.
“Entahlah, tampaknya sampai sekarang bapak masih menyukai perempuan itu. Namun ya… bapak masih belum berani nak” tampang Pak Arlin seperti pasrah. Tiba-tiba kepalaku berputar-putar mencari sebuah fakta atau ingatan yang tertinggal, tapi apa ya? Dan Bingo! Aku menemukannya, tapi baru dugaan sih. Ah udahlah, males mikirinnya.
-_-
Kenapa hari ini aku melihat wajah Pak Arlin setegang itu ya? Tumben, kayaknya bakal ada sesuatu yang terjadi nih.
“Wi, keliatannya muka Pak Arlin tegang begitu?” Tanya ku pada Tiwi. Kelas sedang mendengarkan penjelasan Pak Arlin.
“Jiah dah, yang merhatiin” goda Tiwi pelan. Aku merenggut.
“Apaan sih, tanpa merhatiin udah keliatan kali” balas ku.
“Ya, yang di belakang ada apa?” Pak Arlin langsung menoleh.
“Eh, nggak pak!” sahut ku cepat. Pak Arlin lalu berbalik dan kembali menjelaskan.
-_-
Dan aku menemukan lagi tampang itu. Bukan Pak Arlin sih, tapi Teh Aulia. Kenapa sih? Kenapa aku harus menemukan tampang ini dalam dua kali sehari.
“Kenapa teh?” Tanya Ulya. Teh Aulia cepat menggeleng.
“Teh, cerita aja daripada di pendem nggak baik” kata Widi. Kami sedang beristirahat sambil meluruskan kaki.
“Teteh lagi tegang nungguin sesuatu” akhirnya Teh Aulia bicara.
“Nungguin apa? Pertandingan?” kali ini Widi yang bicara.
“Bukan”
“Terus apa dong?” Tanya Melati (Dia jarang latihan makanya baru nongol sekarang).
“Ada deh”
“Yee teteh jangan gitu dong. Aku tahu! Jangan-jangan teteh bakal di lamar!” seru Dena (Ini juga).
“Aah, sok tahu kamu!” seru Teh Aulia.
“Waah, kalau gitu teteh kapan nikahnya?” sahutku.
“Nggak pa-pa kali nikah muda. Teteh tahfidz aja banyak yang nikah muda” sahut Tera.
“Yee..teteh kan masih punya banyak impian. Memangnya kamu mau nikah muda?” Teh Aulia balik bertanya.
“Mau teh, katanya mau nikah habis lulus SMP!” sahutku. Tera pun menjitak kepalaku.
  “Apaan sih! Kamu tuh yang mau nikah habis lulus SMP!” balas Tera.
“Udah-udah. Ayo lanjutin lagi!” Teh Aulia pun melerai kami.
-_-
Seminggu kemudian, aku melihat perubahan raut wajah pada Pak Arlin. Beliau terlihat lebih cerah!
“Aduh kenapa sih, kok Pak Arlin mukanya girang gitu sih?” batin ku.
“Pak kok bapak mukanya seneng gitu sih?” Tanya Hani di kelas. Pak Arlin hanya tersenyum, wajahnya berbinar.
“Baiklah, ini mengakhiri rahasia antara bapak dan kalian. Setelah melalui prjalanan yang panjang dan melelahkan… Akhirnya bapak berhasil mempersunting wanita itu” beber Pak Arlin.
“Eh iya pak??” jawab kami. Namun serentak terdengar ‘sstt’ pertanda untuk tidak rebut agar tidak bocor.
“Weeii…” seru kami.
“Ciye..bapak…” sahut yang lain.
“Rencananya bapak akan menikah saat liburan. Tanggal tepatnya bapak belum tahu pasti” lanjut Pak Arlin.
“Yahh bapak, kita nggak bisa datang dong” sahut anak-anak kecewa. Dan liburan tinggal seminggu lagi.
“Ah, lagian bapak nggak mau nyelenggarain pesta mewah, sederhana saja yang penting berkah” jawab Pak Arlin.
“Amiin” koor anak-anak.
“Pak sebutin namanya” pinta kami. Namun Pak Arlin menggeleng. Kami tetap meminta namun Pak Arlin tetap bersikukuh menolak.
“Teman serumah bapak juga tahu?” Tanya kami. Pak Arlin meangguk.
“Wah, kalau gitu kita Tanya ke orang rumahnya aja” usul Fera.
“Eit, bapak larang kalian untuk mengintograsi guru-guru juga orang-orang terdekat bapak, mengerti? Nanti kalian akan tahu lewat undangan yang bapak sebarkan”
“Yahh bapak…”
-_-
Hari ini seminggu menjelang kepulangan. Bearti seminggu lagi aku akan naik kelas 9, yeah ganbatte! Pasti berat tapi nikmati saja. Dan hari ini latihan terakhir sebelum liburan. Dan Teh Aulia mengumpulkan kami.
“Pertama, teteh minta maaf kalau selama ini teteh berbuat salah kepada kalian baik secara lisan atau perbuatan dan ada bagian dari teteh yang membuat kalian tidak nyaman dan berkenan. Kalian mau maafin teteh nggak?” Tanya Teh Aulia.
“Mau teh, teteh maafin kita juga ya” balas Silvi mewakili kami.
“Iya kok, teteh maafin kalian. Terus satu lagi, teteh akan menikah”
“Iya?? Kapan?? Kok ojol-ojol sih, memang kapan teteh di lamar??” Tanya kami kaget.   
“Aduh, kalau ngasih pertanyaan satu-satu dong. Teteh dilamar dua minggu lalu. Kasihan calon suami teteh. Dia dites sama abah berat. Karena abah lulusan pesantren Di Tanya pemahaman agama panjang lebar, tentang pernikahan, komitmen, latar belakang, dan lain-lain. Bahkan sampai di suruh duel sama A Asep” cerita Teh Aulia.
“A Asep yang kakak seperguruan teteh?” Tanya Jihan. Teteh pun mengguk.
“Yaa sedangkan bapak menyerahkan keputusan sama teteh. Akhirnya setelah istikhoroh 3 hari, teteh menerima lamaran orang tersebut” Teh Aulia mengakhiri ceritanya.
“Wah, sama siapa teh? Teteh sudah kenal lama atau udah lama suka sama orang itu?” tanya Melati. Teh Aulia mengangguk dan mukanya memerah!
“Waaa.. tanggal pastinya kapan nih teh?” Tanya Silvi tidak sabar.
“Lho, mestinya kalian sudah tahu. Undangan sudah disebar bukan?”
“Jadi teteh??” tiba-tiba aku terlonjak. Teman memandangiku kaget.
“Kakak kenapa??” Tanya Dena. Aku bergegas menghampiri Teh Aulia dan membisikkan sesuatu. Teh Aulia mengangguk.
“Tuh tahu..” kata Teh Aulia.
“Yes! Bingo!” aku mengepalkan tangan.
“Kakak kenapa sih?” Tanya Widi heran. Namun Silvi buru-buru menghampiri ku.
“Kamu tahu siapa orangnya Tre?” tanyanya. Aku mengangguk dan membisikkan sesuatu. Silvi tampak tidak percaya.
“Eh iya teh??” seru Silvi. Teh Aulia mengangguk. Dalam waktu singkat kami dikerubuti oleh teman-teman.
“Kakak, kasih tahu dong” pinta mereka. Silvi segera berbisik. Sejurus kemudian. Mereka terlihat terkejut juga kaget.
“Wah jadi teteh….?” Dan tak lama kami pun rebut sedangkan wajah Teh Aulia semakin memerah! 
Selesai
Bekasi, 6 September 2011
RASA SYUKUR ITU INDAH
Oleh Farras Hafidza
Tik…tik..Hujan masih ada bumi basah oleh cucuran air rahmatnya. Ya Allah basahi jiwa kami dengan selalu menyebut nama Mu. Lindungilah kami dari godaan syetan yang terkutuk. Ya Rabbi…Ampunilah dosa kami tunjukilah kami ke jalan yang benar yaitu jalan yang Engkau sayangi….
-amin-
            “Fitri kamu lagi ngapain sayang”, terdengar ibu memanggilku dari bawah,”Fitri habis solat Bu, ada apa?” tanyaku seraya melipat mukena ku.. “ini ada telefon untuk mu”,”oh iya bu..”jawabku singkat sambil meniti satu persatu anak tangga.
“Halo, maaf ini siapa ya?”, ”ini Dara” terdengar suara menjawab dari ujung telfon di sana. Oh Dara anak sekelas dia adalah sainganku memperebutkan juara 1 di kelas, ada apa ya dia telfon sore-sore begini batinku dalam hati. ”Begini Fit kamu udah tau belum kalau besok kelas 9-4 mau bikin acara bukber di panti asuhan setiap anak di haruskan menyumbang minimal 50.000 buat ongkos sama sumbangan buat beli makanannya. Terus kamu sama aku dapet tugas nyari catering untuk porsi 80 orang gitu. Kamu ada usul nggak mau pesen catering dimana kalau aku ada dekat rumahku catering tapi 1 porsinya 10.000 sedangkan dana kita cuma 500.000 gimana kamu ada chanel nggak?” Tanya Dara panjang lebar, ”oh catering aku punya kenalan Cuma setahu aku 1 porsinya 6000 cuma mungkin kalau kita pesan banyak bisa di diskon,nanti deh aku tanya ibuku dulu ya siapa tahu dia punya kenalan catering” jawabku.
“Oh ya sudah nanti kalau kamu sudah tanya telfon aku ya nanti aku cari info lagi makasih ya Fitri Assalamualaikum” Dara mengakhiri pembicaraan sore ini, setelah aku membalas salam dan menutup telefon aku langsung pergi ke kamar ibu untuk mananyakan masalah catering.
            Alhamdulillah lega rasanya ternyata ibu punya kenalan catering yang cukup untuk dana yang telah di sediakan kata ibu menunya lengkap 4 sehat 5 sempurna itu usahanya ibu-ibu pensiunan yang hanya mencari kerjaan dan tidak memikirkan untung yang penting bisa di pakai untuk catering berikutnya. Segeralah aku memberi kabar pada Dara kata Dara besok ia mau main ke rumah untuk membicarakan pada aku dan ibu.
            Di sekolah kami di beri tahu ulang oleh wali kelas kami beserta pembagian kelompoknya. Aku dan Dara bersyukur telah mendapat jalan keluar dari masalah kemarin sore.
            Selesai sekolah Dara langsung main ke rumahku ia sudah pamit pada ibunya tadi pagi mau main ke rumah teman.Senangnya iu di rumah tidak pergi jadi kami bisa lebih jelas menanyakan cateringnya pada ibu.
Kata ibu kita bisa pesan melalui telefon saat itu juga kami langsung menelfon perusahaan catering tersebut memesan 80 porsi di antar ke panti asuhan milik ustad Rahman di jalan raya merdeka nomor 32. Dan Alhamdulillah kami bersyukur tidak ada halangan dan amanah sudah ditunaikan.
            Di sekolah hari berikutnya teman-teman belum melaksanakan amanahnya masing-masing padahal besok sudah harus siap semua. Aku kasihan melihat teman-teman yang kerepotan mencari chanel dan dengan biaya yang telah di tentukan untuk masing-masing bidangnya. Aku dan Dara tidak bisa tinggal diam akhirnya kami membantu mereka satu persatu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku dan Dara kalau ibu tidak punya chanel bisa-bisa aku dan Dara saat ini juga kebingungan seperti teman-teman yang lain. Terima kasih ya Allah.
            “Dara acaranya nanti sorekan?” Tanyaku memastikan,”iya nanti setelah sekolah selesai kita pulang dulu untuk berganti pakaian lalu kita kumpul lagi di sekolah pukul 4” jawab Dara menjelaskan,”eh gimana untuk transpotnya Fathan sama Faiq sudah dapatkan?”,”iya Alhamdulillah sudah dapat tadi Fathan sudah lapor ke ketua kelas kebetulan aku sedang lewat jadi aku tahu”,”oh kirain kamu nguping pembicaraan mereka”,”ah dasar Fitri, Fitri menuduh yang nggak-nggakkan.”,”nggak lah Cuma bercanda kok,hehehe”,”iya-iya aku percaya deh sama kamu, yuk baris sepertinya sudah bel tadi” ajak Dara, ”yuk”aku menyetujui.
Beruntung sekali aku punya teman sebaik Dara walaupun kami adalah saingan sejak SD namun Dara tetap peduli padaku.Dan ia tidak pernah menganggapku sebagai musuhnya melainkan kami saling melengkapi kekurangan kami.

Sore harinya di panti asuhan…..          
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 namun catering yang kami pesan belum juga datang. ”Fit bagaimana dong sampai jam segini kok belum juga datang ya? Tadi si Rahmat udah nanyain tuh, aku takut kita nggak di percaya lagi sama temen-temen ”,”iya nih Dara dari tadi aku juga nunggu kok belum datang juga ya? aku sudah sms ibu tapi ibu belum ngabarin juga sampai sekarang”,”eh iya Fit kamu waktu itu nyimpen nomer cateringnya nggak?” Tanya Dara khawatir sama khawatirnya denganku.”enggak aku sama sekali nggak kepikiran kalau sampai begini, duh gimana nih Dar? mungkin nggak ya Dar kalau cateringnya nyasar? waktu itu kamu ngasih alamat lengkap kan?” tanyaku pada Dara ”masa sih nyasar?aku udah ngasih alamat selengkap-lengkapnya.
salatullah..salamullah..”,”eh Fit HP kamu bunyi tuh mudah-mudahan aja dari ibu kamu”,”eh iya amin deh kalo dari ibu aku,ntar ya aku jawab telefon dulu”Alhamdulillah ibu yang telfon batin ku senang.
“halo Ibu….” aku menanyakan panjang lebar dengan panik pada ibu mungkin ibu pusing juga mendengar pertanyaan tanpa spasiku, tapi ibu tetap bisa mencerna semua pertanyaan ku dan menjawabnya dengan lengkap dan jelas walaupun agak terburu-buru.
“Dara, bagaimana dong ternyata cateringnya yang mengantar sedang izin mudik jadi tidak ada yang mengantarkan cateringnya, otomatis kita harus mengambilnya sendiri. Tapi pakai apa untuk membawa 80 porsi sekali angkut? karena waktunya tidak cukup sekarang sudah mau azan sedangkan ibuku sedang pergi dan supir dipakai ibu”, aku menjelaskan masalah kami pada Dara, ”ya sudah aku coba telefon ayahku dulu kalau ayah ku bisa kita bisa di antar ayah ku”Jawab Dara memberi solusi yang cukup baik.
Aku menunggu dengan perasaan takut aku bedo’a semoga ayahnya Dara bisa menolong kami,ya Allah bantulah kami menuju jalan keluar yang baik.Amin
“Fitri Alhamdulillah ayahku sedang dalam perjalanan menuju ke sini” Dara memberi tahuku dengan wajah bersinar. terimakasih Ya Robbi Engkau memang maha Berkehendak.
            Alhamdulillah setelah catering datang acara berjalan seperti semula.
Saat melihat anak-anak makan dengan lahap aku merasa bersyukur atas apa yang telah Allah beri padaku. Alhamdulillah aku masih di beri keluarga, rizki yang cukup. dan masih banyak lagi yang bisa ku syukuri dengan melihan kondisi panti.
            Acara selesai pada pukul 7 anak-anak di haruskan pulang kerumah masing-masing banyak anak yang sudah di jemput banyak juga yang pulang naik angkutan umum. Contohnya aku, aku harus pulang sendiri karena kedua orang tua ku sibuk di kantor dan kakak tidak mungkin menjemput karena harus jaga rumah dan adik. Saat aku hendak menyetop angkot jurusan pondok kopi terdengar klakson mobil yang membuatku bahagia ternya yang mengklakson tersebut adalah mobil ayah dan didalamnya ada Ibu ,wow.. ternyata ada kakak dan adik juga. Senangnya hatiku jarang sekali suasana seperti ini hinggap di keluargaku.
            Terimakasih ya Allah,memang benar kata ibu tempat seperti asuhan adalah tempat yang cocok untuk kita dapat mensyukuri semua yang telah di berikan Allah. Dan cobalah melihat kebawah agar kita dapat bersyukur pada Allah banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita, janganlah kita melihat ke atas karena kita tidak akan pernah bersyukur kalau kita selalu melihat ke atas, kecuali itu dapat mendorong kita agar lebih baik.
SENYUM BAHAGIA AYAH BUNDA
Oleh Tania Fajarwati

Aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Nama ku adalah Dina Shofia.   Usia ku sebelas tahun. Aku duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Kegiatan keseharian ku adalah sekolah dan membantu ibu berjualan  sayur-sayuran di pasr. Sebenarnya dulu ibu bekerja sebagai karyawan di toko buku, tetapi karena toko buku itu bangkrut ibu terpaksa berhenti bekerja, dan akhinya ibu memutuskan untuk berjualan sayur di pasar. Alhamdullah penghasilan ibu sehari-hari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Suatu hari bapak terbaring lemah di tempat tidur. Badan bapak panas sekali, bapak mual-mual dan tidak nafsu makan. Ibu binggung, kemarin sepertinya bapak tidak apa-apa. Sudah tiga hari bapak berada di rumah dan belum di bawa ke puskesmas. Karena puskesmas nya jauh dari rumah kami, dan kami pun tidak empunyai kendaraan untuk membawa bapak berobat. Pada akhirnya ada tetangga kami yang mau membantu kami. Di bawalah bapak ke puskesmas, pada saat di jalan bapak erlihat sangat lemas sekali, mukanya pucat. Pada saat di perjalanan  bapak berpesan kepada kami “ jagalah diri kalian, lindungilah ibumu nak, banggakan semua orng yang mengenalmu. Suatu  saat nanti bapak ingin semua anak bapak berhasil! Berguna bagi semua orang. Bapak sayang kalian.”
Tanpa terasa air mata telah membasahi pipiku, bapak telah pergi meninggalkan kami. “ ya allah ampunilah dosa bapak, terimalah semua amal ibadahnya, semoga bapak mendapatkan tempat terbaik  di sisi-Mu.” Amin ya rabbal’alamin
Tidak terasa satu tahun sudah bapak pergi meninggalkan kami. Kini aku sudah berusia dua belas tahun dan sudah berada di tingkat paling atas di sekolah yaitu kelas  enam. Di sini aku harus belajar lebih giat dan lebih serius! Karena nanti aku akan menghadapi berbagai macam ujian. Salah satunya adalah Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional  (UASBN). Aku harus bias mendapatkan nilai yang terbaik, aku ingin membanggakan ibu dan alm. Bapak.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak kerasa UASBN sudah aku lewati, dan hari ini sekolah ku menggadakan acara perpisahan. Hasil UASBN  akan di umumkan, aku khawatir, aku takut kalau ternyata nilai ku tidak memuaskan. Tiba-tiba teman di sebelahku menepuk dan menmanggil nama ku. Aku pun terkejut dan ternyata dari tadi nama ku di panggil oleh kepala sekolah ku. Beliau memberi  ku sebuah amplop sambil mengucapkan “selamat nak”. Aku pun tak sabar untuk melihat isi dari amplop itu, setelah aku membuka isi amplopnya ernyata NEM aku sangat memuaskan. Aku mendapat nilai yang paling tinggi di antara teman-teman ku yang lain. Pihak sekolah memberi ku beasiswa sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku pun ingin cepat-cepat memberi  tahu ibu.
 Sesampainya di rumah…
“Ibu, ibu, ibu..” aku memanggil ibu sambil mencarinya.” Huft, mungkin ibu sedang tidak ada di rumah. Mungkin sebentar lagi ibu datang.”
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah ku. “assalamualaikum”  dengan cepat aku segera membukakan pintu “ pasti itu ibu! Aku yakin.” Ternyata aku tidak mengenali siapa yang mengetuk rumah ku. Itu bukan ibu.
 “waalaikumsalam. Silahkan masuk bi,” ternyata dugaan ku salah. Itu bukan ibu tetapi adiknya ibu. Tetapi ko bi ita  udah pulang, ibu belum yah?  “ibu kemana bi?” Tanya ku
“Dina, ibumu kecelakaan. Ibumu tertabrak mobil pada saat perjalanan mau pulang ke rumah  sekarang ayo kamu ikut bibi.”
“Aku tidak percaya! Pasti ini salah. Pasti yang kecelakaan bukan ibu.”
“ayo din, ikut bibi” 
“ itu Din, itu ibumu.”  Dengan cepat aku menghampiri ibu.
“Ibu, ibu kenapa? Bangun ibu, bangun!” ibu pun segera di bawa ke rumah sakit terdekat dengan ambulance. Aku selalu mengikuti Ibu kemanapun ibu di bawa.
“Tunggu sebentar ya dik. Kamu dialarang masuk” kata seorang suster.
Akhirnya aku menunggu ibu di luar ruangan bersama bibi. Aku sangat panik. “ya allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan ibu.” Ammin
Sudah tiga puluh menit ibu di dalam, lama sekali dokter memeriksa ibu.
Tidak lama kemudian. Ada seorang dokter menghampiri ku. “ apakah kamu anda keluaganya ibu Mira?” Tanyanya bi Ita. “iya dok, betul saya keluarga ibu Mira. Bagaimana keadaan kaka  saya dok?” jawab bibi Ita.” Ibu saya baik-baik saja kan dok?”   “maaf kami sudah berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan  ibumu. Tapi mungkin allah  berkehendak lain.”jawab dokter itu
Aku pun tak kuasa menahan tangi. Aku segera pergi meninggalkan dokter itu dan bibi. “ini gak mungkin! Kenpa secepat ini ibu pergi meninggalkan kami ya allah.. mengapa engkau secepat itu menggambil nyawa ibu ku ya allah, setelah kemarin bapak pergi meninggalkan kami. Apa salah dan dosa kami ya allah, sampai engkau tega mengambil nyawa bapak dan ibu kami secepat  itu.” “Dina sudah nak, tidk baik bicara seperti itu kepada allah. Mungkin allah memberikan yang terbaik untuk kita”. “Tapi bi, ku ingin menunjukkan sesuatu sama ibu, aku mempunyai kabar gembira buat ibu. Aku ingin ibu tau, dan aku yakin ibu pasti senang mendengar kabar ini. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah bi.” “Bibi yakin din, pasti ibumu akan tau apa yang ingin kamu tunjukkan”
Enam tahun kemudian…
Hari ini aku sudah menamati  Sekolah Menengah Atas (SMA). Alhamdulillah lagi-lagi aku mendapatkan basiswa untuk melanjutkan kuliah di kota Paris. Seandainya Bapak dan Ibu masih ada. Pasti mereka akan bangga mendengar kabar ini.
Bapak , Ibu  aku telah berhasil membuat orang yang mengenalku bahagia. Seandainya engkau masih ada,.. aku ingin melihat engkau tersenyum bahagia.. Terima kasih ya allah atas semua nikmatmu yang telah engkau berikan kepada hamba-Mu ini.. aku berharap Bapak dan ibu ku tersenyum bahagia melihatku, walaupun aku tidak bisa  melihat mereka tersenyum.. J

My Dream
Ratu Salsabila

            Sudah larut malam, aku belum juga tidur. “Fan, kok belum tidur sih?” tanya mama ketika membuka pintukamar Fania. “Hmm iya ma,Fania belum ngantuk.” Jawab Fania bohong. “Kenapa lagi sih Fan? apa yang kamu pikirkan? mama tau kok kalau kamu bohong.” jawab mama menyelidiki. “Udahlah ma, Fania mau tidur dulu, besok aja ya ma.”   “ya sudah kalau kamu belum mau cerita sekarang.” jawab mama.

            “Huuuaaaahhhh….. Ngantuk banget. Jam berapa sih sekarang?”
            “Trreenngggg!!!!!!” jam beker Fania menunjukkan angka 7.
            “Ya Allah, jam 7, telat deh aku.” Fania kaget dan langsung bergegas ke kamar mandi.
            “Faniaaaaaaa!” teriak mama dari bawah.
            “Iya maaa Fania lagi mandi.”
            “Ya Allah, Fania udah jam 7. Cepetan Fan, Pak Ujang udah nunggu kamu dari tadi tuh.” ujar mama sambil menunjuk Pak Ujang yang dari tadi menunggu Fania di garasi mobil.
10 menit kemudian,,,
            “Ma, Fania berangkat dulu ya. Assalamualaikum. ”Fania menuruni tangga dengan terburu-buru. Tidak lupa ia sempat mengambil roti dan meminum susu yang telah mama sediakan di meja makan.
            “Iya Fan,hati-hati ya.”
                                                            ***********

Fania Marwa siswi kelas 2 SMA itu akrab dipanggil Fania. Ia bersekolah di SMA Triguna, Banten. Fania adalah anak bungsu dari 2 bersaudara, ia mempunyai kakak laki-laki yang bernama Kevin. Kegiatan yang dilakukan Kevin sekarang adalah photographer. Fania selalu mendapat juara di kelasnya, memang dari kecil Fania sudah berprestasi. Lain halnya dengan kakaknya, Kevin tidak ingin melanjutkan kuliahnya, ia hanya ingin menjadi photographer profesional. Tapi Fania tetap semangat dalam menjalankan pendidikannya.
            “Huh,,Alhamdulillah aku tidak telat.” Fania dengan  segera memasuki kelasnya.
            “Eh Fan, tumben baru datang?” tanya Vriska, teman dekat Fania.
            “Iya, aku telat bangunt adi. Hehe.” Jawab Fania polos.
            “…….” Mereka diam sejenak. Suasana kelas menjadi hening.
Tiba-tiba……
            “Selamat pagi anak-anak!”  Bu Siska,guru IPA yang lucu itu datang.
            “Selamat pagi Bu…” jawab anak-anak serentak.
90 menit telah berakhir. Dan waktunya istirahat.
            “Ttteeetttt…..”  bel sekolah berbunyi.
Sorak-sorai terdengar dari luar kelas. Murid-murid berhamburan keluar menuju kantin, tempat handalan pastinya.
            “Fan, ke kantin yuk!” ajak Vriska.
            “Ayuk…”Fania dan Vriska langsung menuju kantin dan memesan dua mangkok bakso dan dua es jeruk, pesanan favorite mereka.
            “Mas, kaya biasa ya.” Ucap Vriska
            “Oya Fan,nanti kamu rencana kuliah di mana?”
            “Hmm aku maunya si di luar Vris, hehe” jawab Fania malu-malu
            “Wah bagus tuh. Boleh juga. Di mana?”
            “Belum tau  juga sih Vris, aku belum bicarakan sama mama aku. Tapi aku ingin sekali di Perancis.”
            “Perancis? Bagusbagus.. Semoga kecapai deh” Vriska mendoakan.
            “Amiin. Memangnya kamu mau di mana Vris?”
            “Aku masih bingung, belum tau ni. Hehe.”
Beberapa jam kemudian,,,,
Pulang sekolah……..
            “Vris, duluanya.”
            “Iya Fan, salam buat Tante Mona ya.” Tante Mona itu mamanya Fania.
            “siiiippp!” Fania member tanda oke.
Sesampainya di rumah…..
            “Mamaa Fania pulang.”
            “Ma,ada yang mau Fania bicarakan.”
            “Tentang semalam?” tanya mama curiga.
            “Ma, Fania mau melanjutkan kuliah di luar ma. Bolehkan ma? Fania ingiin sekali. Fania janji deh, Fania akan membuat mama sama papa bangga sama Fania. Ya ma?” Fania membujuk mama.
            “Maksud kamu di Perancis?” Mama memang sudah tau sekali dari dulu kalau Fania memang memimpikan bersekolah di Perancis.
            “Iya ma.Bolehkan?”
            “Hmm,,,” mama berfikir
            “Ya tentu bolehlah sayang.”
            “Yang benar ma?”Fania tidak percaya.
            “Iya. Tapi mama bicarakan dengan papa kamu dulu ya sayang.”
            “Oke deh ma.”Fania sangat senang dan tidak percaya kalau mamanya setuju dengan keinginannya.
                                                ********************

“Eh Fan,kata mama sama papa, kamu mau kuliah di Perancis? Gaya kau. Buat apa sekolah jauh-jauh? Buang-buang duit tau. ”Kevin memang tidak suka adiknya berprestasi.
“Iya. Memangnya kenapa? Sirik aja sih. Suka-suka aku dong. Memangnya mas tidak mau sekolah. Wuuu dasar masa depan cerah dong mas.” Ucap Fania yang asal.
“Yeee enak aja. Memang kira kalau mas tidak sekolah masa depan mas suram? Tidak juga kali. Mas bisa jadi photographer terkenal. ”Kevin tidak mau kalah.
“Iya deh terserah mas Kevin aja. ”Fania pasrah, karena dia tidak mau berdebat dengan kakaknya Cuma karena masalah sepele.
Fania memasuki kamarnya. Tiba-tiba mama masuk ke kamar Fania yang letaknya tidak jauh dari kamar mama.
            “Eh mama,ada apa ma?”
            “Mama sudah bicarakan semuanya dengan papa, dan papa juga menyetujuinya. Papa senang sekali loh kalau kamu punya mimpi melanjutkan kuliah ke luar negri.” Cerita mama, mendekati Fania yang ada di tempat tidurnya.
            “Alhamdulillah. ”Fania sangat senang mendengar berita bahagia itu.
                                                ******************

2 tahun kemudian………
            “Fan,udah siap? Jangan lupa barang-barangnya say.” ujar mama mengingatkan.
            “Iya ma, udah kok. Semuanya udah aku simpan di bagasi mobil.”
            “Ya sudah kalau semuanya sudah siap, ayo kita berangkat sekarang. Nanti kamu ketinggalan pesawat deh Fan.”
            “Oya aku sampai lupa. Ma,sebentar dulu ya, aku belum mengabarkan Vriska.” Hampir saja Fania lupa.
            “Vriskaa ayo dong angkat!” Fania berusaha menelepon Vriska, tapi tidak juga diangkat.
            “Fania ayo sayang sebentar lagi jam 11. ”ujar papa.
            “Iya pa.”
Akhirnya, karena telepon Fania tidak diangkat oleh vriska, Fania meng-sms Vriska.
         To:085691605545
Vriska,,maaf aku baru mengabarkan ini padamu.
Hari ini aku akan berangkat ke Perancis,
Aku menuju airport sekarang.
Maafkan aku karena telat memberitahumu,
Dan maafkan aku jika aku ada salah denganmu.
InsyaAllah aku balik ke Indonesia 4 tahun mendatang.
Sampai jumpa….  Miss u
                                                                        Fania
                                                ******************

Akhirnya Fania bahagia melanjutkan kuliahnya di Perancis. Fania berhasil meraih impiannya selama ini. Dan ternyata tidak hanyaFania saja yang bahagia dan berhasil meraih impiannya, tapi sang kakak, Kevin juga berhasil menjadi photographer terkenal di Perancis. Mereka berdua membuka lembaran baru bersama di Perancis ..Betapa bahagianya mereka.
Tak lupa kedua orang tua mereka selalu mendoakan anak-anaknya agar menjadi orang yang sukses..amiin!


UJIAN LISAN
Mahmudah (IX Asiah)

            Uaaa..”, suara jeritan anak permata beradu di sepanjang perjalanan pulang. Pukul 16.00 kami mulai perjalanan kembali ke asrama. Di sepanjang jalan aku, Arin, Nadifa, Nepe saling bertukar cerita. Hingga giliran Nepe bercerita aku tercengang kagum mendengarnya. “Temanku sedang diuji ucapannya”, lalu nepe terdiam. “siapa?”, tanyaku. Nepe hanya tersenyum. Tidak lama, ia melanjutkan perkataannya. “Dia bilang, lebih baik diriku yang terluka daripada kerabatku sendiri”. Sambil menebak-nebak siapa ‘dia’ yang dimaksud Nepe, aku teringat suatu kejadian. Kurang dari sejam yang lalu, sebelum kami meninggalkan Cimuja.
          Selesai upacara penutupan, kami bergegas membersihkan sekitar tenda dan barang-barang. Beberapa anak yang sudah selesai ada yang mengobrol dan menaiki permainan outbond. Ketika itu, aku sedang bercanda dengan beberapa temanku. Keributan yang datang memecahkan obrolan kami. “Ingrid semangat!”, “Ingrid pasti bisa!” Suara teriak-teriak dari dekat danau kecil terdengar ribut. Aku berjalan ke arah sumber suara itu. Ternyata Ingrid sedang menyebrangi danau itu dengan berjalan di atas bambu. Apa yang membuat mereka heboh teriak-teriak? Bukankah permainan itu sudah dilewati tadi, saat outbond?? Aku bertanya dalam hati. Mataku terarah ke tepian danau. Oh! Rupanya ini sebabnya. Keisengan para guru kami muncul. Pak Amin dan Pak Syaiful Anwar menggoyang-goyangkan ujung-ujung bambu yang melintang.
          Ingrid memegang tali yang tergantung di atas bambu dengan erat. Namun tangannya melemah. Digoyangkan lagi bambu itu  semakin kencang, hingga Ingrid hanya bisa memegang tali itu dengan satu tangan. Ingrid bertahan dan sedikit-demi sedikit kakinya berhasil dilangkahkan. Sepertinya dua bapak-bapak itu semakin ‘geregetan’ ingin membuat Ingrid tercebur ke danau berair hijau itu. Digoyangkan lagi bambu itu lebih kuat, hingga Ingrid terjatuh dengan posisi duduk diatas bambu. Digoyangkan lagi bambu itu, hingga akhirnya bambu itu diangkat oleh Pak Amin dan diikuti Pak Syaiful. Ingrid memeluk bambu itu dengan erat. Kini posisi tubuhnyaseperti orang yang sedang memeluk guling. Ia mencoba menarik badannya ke depan, namun ia melemah. Hanya bisa bertahan di atas bambu itu. Sekeliling danau dipenuhi anak-anak permata dan beberapa guru. Kami semua menganggap itu hanya candaan.
          Setelah mencoba bertahan, Ingrid mencoba menarik tubuhnya kembali. Kali ini ia sedikit berhasil. Tubuhnya semakin mendekati ujung bambu. Ketika itu Ingrid berteriak, “woy!! Gak ada yang mau nolongin niih??!”. Tidak lama, salah seorang dari kami mendekati tepian danau. Ia menggendong ranselnya yang berat. Rupanya itu Fia. Ia mengulurkan tangannya. Ketika Ingrid hampir menyambut tangan Fia, keisengan Pak Amin belum selesai. Beliau mendorong tubuh Fia, yang membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan byuuurr!! Fia tercebur. Awalnya Fia terlihat baik-baik saja. Namun lama-kelamaan ia terlihat kesusahan bernafas. Ingrid dan beberapa anak menjatuhkan dirinya ke danau itu dan mengangkat Fia ke rerumputan. Tubuh Fia lemas. Wajahnya pucat. Ia mencoba memuntahkan air danau yang terminum. Namun sayang, air itu tidak bisa keluar. Setelah bunda memberinya susu, Fia mulai membaik. Kini ucapannya itu telah Fia rasakan dan Fia berhasil mengamalkan ucapan itu.

                                                TAMAT






Hadiah Untuk Bapak
Hana Kamila K. (IX Fatimah)


Dengan bekerja menjadi tukang ojek payung dan penjual koran Bagas ingin memberi hadiah untuk bapaknya.  Sebulan  lagi  bapak  berulang tahun yang ke 41 tahun. Bagas ingin memberi hadiah pada bapak dengan uang hasil jerih payahnya.

Bapak  Bagas  berprofesi sebagai tukang becak, yang penghasilannya tak menentu. Bapak Bagas orang yang baik, bijaksana, rajin bekerja dan sangat penyayang. Bagas juga sangat menyayangi bapaknya. Sedangkan ibu Bagas berjualan kue di pasar tiap hari. Bagas adalah anak sulung, Bagas duduk di bangku SMP kelas 2. Bagas mempunyai dua adik perempuan yang masih SD.

Setiap hari, keluarga Bagas selalu sholat berjama'ah. Bagas melihat bapaknya mengenakan peci dan sarung yang sudah jelek. Sarungnya pun sudah penuh tambalan. Bagas ingin sekali memberi kado peci dan sarung pada hari ulang tahun bapak. Tak terasa, hari ini tepat hari ulang tahun bapak. Uang Bagas sudah cukup untuk membeli kado itu.Setelah selesai mengojek payung, Bagas pergi ke Toko Muslim. Tapi sayang sekali, ada dua orang preman merebut uang Bagas dan membawanya kabur. Bagas mengejar kedua preman itu. Tetapi kedua preman itu malah memukuli Bagas. Bagas tak bisa melawan dan hanya bisa menangis. Bagas pun pulang tanpa membawa apa-apa

Setelah sampai di rumahnya, dengan keadaan yang parah Bagas bersujud di kaki bapaknya. Bapak  heran sekali, apalagi melihat keadaan Bagas yang seperti itu. 'Maafkan Bagas pak, Bagas nggak bisa kasih kado di hari ultah bapak  ini. Bagas memang nggak bisa jadi anak yang baik.' ucap Bagas sambil menangis.Lalu Bagas menceritakan semua kejadian yang dialami dari awal hingga akhir.

'Bagas anakku, bapak sangat menghargai,senang dan bangga atas usahamu. Dengan kamu nurut sama Bapak,rajin belajar, sholat dan membantu orang tua, itu sudah jadi kado yang indah buat Bapak. Bapak sangat bersyukur dan bahagia memiliki anak seperti kamu.'' Ucap Bapak.  Mendengar itu Bagas tersenyum. Lalu Bapak dan Bagas berpelukan. 'Terimah kasih pak' Kata Bagas.








Jilbab itu Sunnah?
Rahma. Nama yang cantik. Secantik pemiliknya. Rahma Az-zahra. Sempurna cantik. Wajahnya putih mulus. Rambutnya hitam lebat. Menjuntai indah. Dan terbiasa dikuncir kuda. Tubuhnya termasuk kategori ideal. Otak yang cerdas melengkapkan pesonanya. Siapa pula lelaki zaman sekarang yang tak mau bersandang dengan gadis yang hampir disebut perfect itu. Ya, ia belum seutuhnya perfect. Ada sesuatu yang belum membuatnya lebih cantik. Apalagi kalau bukan jilbab.
“Jilbab itu wajib,” ucap Deva, sahabat Rahma. “Masa sih? Bukannya jilbab itu sunnah?” tanya Rahma ragu. “Rahma, jilbab itu wajib! Di Al-qur’an aja dijelaskan kok,” jelas Deva. “Menurut ku jilbab itu sunnah..,” bantah Rahma keras kepala. Mereka terus berdebat. “Itu kan menurut mu, kalau menurut Al-Qur’an, jilbab itu wajib. Coba deh kamu baca terjemah Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 59,” Deva masih berusaha meyakinkan. Yang diyakinkan masih tetap pada pendiriannya. “Ah, nggak tahu deh.. Aku pengen sih pake jilbab, tapi, kalau pake jilbab, muka ku tuh keliatan tua. Ntar nggak dapet cowok lagi.. Udah gitu panas,” Rahma merapihkan buku-buku yang bertebaran di meja kelasnya itu sedangkan Deva masih berdiri tepat di samping meja rahma. Ia mendesah pelan. Ia sangat berharap sahabatnya itu bisa menjadi sesosok muslimah yang anggun.

Mata Rahma menyusuri rak demi rak jati tua, menatap satu persatu buku-buku yang masih berselimut plastik. Lantunan musik dari seorang penyanyi yang sekarang sedang tenar-tenarnya, diputar menemani para pelanggan toko buku. Bibir Rahma bergerak-gerak, mengucapkan lirik lagu yang sedang diputar itu. Kepalanya mengangguk-angguk pelan, mengikuti irama. Ia sedang mencari beberapa novel. Pastinya sebuah novel yang dikemas untuk para remaja. Satu jam telah terlewati. Tiga buah buku sudah berada dalam genggamannya. Kini, tiba saatnya ia melakukan transaksi kepada penjaga kasir. Ia berjalan menuju kasir itu tiba-tiba, “Maaf, kamu Rahma bukan?” seorang pemuda tampan mendekati Rahma dari arah kanan. Rahma yang terkesiap akan kedatangan pemuda tampan itu menoleh. Seketika ia terpesona oleh wajah pemuda yang teduh itu. Ia bagaikan disapa oleh seorang pangeran. “Eh..a..i..iya..kok tahu?” tanyanya salah tingkah. Pemuda itu tersenyum lembut. Membuat Rahma makin terpesona. “Kamu lupa? Aku Adi, temen SD mu dulu,” ucapnya. Rahma terhenyak. Baru menyadari, “oh..i..iya..a..abis kamu beda banget,” Rahma meringis. Tersenyum kecil. Tingkahnya makin kaku. Pemuda bernama Adi itu tertawa kecil. “Tapi kamu nggak berubah banyak ya,” ujarnya. Rahma tersipu. Pipinya merah merona. Beberapa saat mereka berbincang-bincang. Mengingat kembali zaman SD nya. Ah, nostalgia. Perlahan rasa canggung Rahma luntur. Ia asyik berbincang dengan Adi. Terkadang mereka tertawa atau Rahma cemberut manja saat Adi mengingat kelakuan konyol yang pernah dilakukan Rahma. Ada rasa sreg di hati Rahma terhadap Adi. Perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul.
“Oh ya, kamu ke sini beli buku apa?” tanya Adi. Rahma menoleh ke buku-buku dalam genggamannya. Menunjukkan di depan dada. Adi mengangguk sambil ber-‘oh’. “Kamu sendiri?” Rahma melirik buku yang ada di dalam genggaman Adi. Tertulis dengan huruf sambung, Mengapa wanita harus berjilbab. Rahma tersentak membaca judul buku dalam genggaman Adi. ‘kenapa dia beli buku itu??dia kan cowok..’ gumamnya. “Hmm..ini, aku ada tugas dari guru agama, disuruh buat artikel tentang wajibnya wanita berjilbab. Lagian aku juga pengen tahu kenapa wanita diwajibkan berjilbab,” jelasnya sambil tersenyum amat teduh. “Oh,” ucap Rahma singkat. “Ngomong-ngomong kapan nih kamu berjilbabnya?” Adi mengeluarkan pertanyaan yang membuat Rahma bagai disambar petir. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan itu. “Ee..mm..a..anu..udah ada niat sih..mm..tapi nanti aja deh,” Rahma menunduk. Ia merasa amat malu sekali. Kemarin sahabatnya juga berkata demikian. “Loh, kenapa nanti? Bukannya jilbab itu wajib untuk kaum hawa? Tunggu apa lagi?” lama kelamaan pertanyaan Adi persis seperti yang diucapkan Deva kemarin. “Hmm.. iya sih, tapi aku aja baru tahu kemarin jilbab itu wajib,” saking kencangnya jantung Rahma berdegup, semakin aneh jawaban dari mulutnya. “Tuh kan kamu saja sudah tahu, kenapa tak melakukannya?”Adi seperti sedang mempengaruhi Rahma. Sedangkan Rahma merasa risih dengan pertanyaan-pertanyaan itu. “Nggak tahu deh. Mungkin nanti kalau udah dapet jodoh,” ujarnya. Adi menggeleng. “Kenapa? takut nggak laku ya? ah, itu pikiran kamu saja. Aku sebagai salah satu kaum lelaki, justru lebih suka kepada wanita yang menutup auratnya ketimbang yang mempertontonkan aurat atau yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai perhiasan wanita,” Adi sudah seperti ustadz yang sedang menceramahi santri-santri ketika melakukan kesalahan. ‘Ah,apa urusan dia menyuruhku berjilbab? Itu kan sesuai orangnya, huh! Dia tak ada bedanya dengan Deva’. “Tak tahulah Di, nunggu hidayah dari Allah. Udah ya aku pamit dulu. Bye,” Rahma berjalan menjauhi Adi. Ia merasa gerah dengan pertanyaan dan ceramahannya. Baru kemarin Deva memintanya berjilbab, sekarang datang lagi pangeran berkepribadian ustadz “Eh, tunggu Ma..,” Adi mencegah Rahma yang sudah berjalan menjauh darinya. Tidak seperti yang ada pada sinetron-sinetron zaman sekarang. Mencegah sambil menarik lengan wanita. Adi cukup memanggil saja, Rahma sudah menoleh. “Maaf, aku nggak bermaksud ceramahin kamu. Aku cuma pengen kamu terlihat sempurna aja. Karena sayang sekali kecantikan yang kamu miliki ini, bisa terlihat oleh orang-orang kapanpun dan dimanapun. Dan sebenarnya aku cuma mau bilang, ‘kamu cantik sekali kalau berjilbab.’ Ya sudah aku pulang dulu. Assalamualaikum,” kini Adi yang menjauh dari Rahma yang berdiri kaku. Kakinya sukar sekali digerakkan. Ia bagaikan seorang putri yang baru saja dilamar seorang pangeran. Bahkan bibirnya pun sulit tuk menjawab salam Adi. Ia benar benar tersanjung. Wajahnya sempurna memerah. Hatinya berdegup cepat. Ingin rasanya ia melayang ke angkasa. Bersama dayang-dayang langit. Oh Tuhan, mimpi apa ia semalam?

Rahma tersenyum-senyum. Wajahnya terlihat sumringah. Ia terlihat amat bahagia. Kepalanya bertengger di tangan kanannya. Pandangannya lurus ke langit-langit kelas. “Ma.. Rahma.. Hello, RAHMA!” Deva membuyarkan lamunan Rahma. Rahma tersadar. “Kenapa sih kamu Ma?” tanya Deva yang bingung dengan sikap sahabatnya ini. Yang ditanya malah tersenyum lebar, memainkan ujung rambutnya. “Eh Va, kenapa sih cewek harus berjilbab?” pertanyaan Rahma sontak membuat Deva mengernyitkan kening. Kemudian tersenyum. “Agar mudah dikenali,” ujarnya singkat, memancing pertanyaan dari bibir Rahma. “Mudah dikenali maksudnya?” Rahma terpancing bertanya. “Agar mudah dikenali sebagai orang muslim. Dan juga, firman Allah, agar tidak diganggu. Karena biasanya orang berjilbab itu lebih disegani ketimbang yang memamerkan auratnya,” Rahma ber-‘oh’. “Dan juga kalau kita berjilbab kita akan canggung dan malu jika melakukan maksiat,” jelas Deva lagi. “Maksudnya?” Rahma menatap serius wajah Deva. Yang ditatap tersenyum lebar, lebih tepatnya nyengir. Merasa senang sahabatnya bertanya demikian. “Contohnya, kalau kamu nggak berjilbab kayak gini, kamu tentunya bisa bebas keluar masuk ke diskotik atau bisa bebas minum alcohol. Dan itu wajar- wajar aja kan. Tetapi kalau kamu berjilbab, pastinya kamu akan malu ketika keluar masuk diskotik. Malu sama Allah, malu juga sama jilbab,” Deva menjelaskan panjang lebar. Gaya bicaranya menyerupai Bccu Nur guru Agama. Ia membenarkan letak jilbabnya. Rahma ber-‘oh’ LAGI. “Hmm emang aku cantik ya, Va kalo pake jilbab?” pertanyaan Rahma tentu membuat dahi Deva mengkerut dan mengundang senyuman manisnya. “Tentu. Cewek itu rata-rata lebih cantik kalau berjilbab,” Mata Rahma berbinar. “Nanti temenin aku beli jilbab ya? Mau kan?” Deva terdiam sejenak. Sahabatnya ini benar-benar terlihat aneh. “Kamu kenapa sih, kok jadi tiba- tiba pengen berjilbab? Baru kemarin lusa kamu bilang belum mau,” Deva menatap aneh Rahma. Ada perasaan curiga di hatinya. Rahma pun menceritakan kejadian kemarin. “Beuh.. berarti kamu berjilbab karena manusia, bukan karena Allah,” cibir Deva. Rahma meringis. “Nggak kok, aku kan emang dari dulu udah niat mau pake jilbab. Tapi aku belum siap aja. Nah sekarang aku udah siap. Kan katanya jilbab itu wajib,” ujarnya. “Ehem, waktu itu aja keras kepala bilang jilbab itu sunnah lah, sekarang..,” cibir Deva lagi. “Ah gimana sih kamu tuh, sahabatnya mau berjilbab bukannya didukung,” Rahma menepuk bahu Deva. Cemberut manja. “Aku sih ngedukung. Tapi, kamu berjilbabnya karena Allah dong, Rahma cantiiik,” Deva mencubit gemas kedua pipi Rahma. “Iya, aku berjilbab plus-plus kok. Karena Allah dan..,” Rahma tersenyum manis. Wajah tampan pangeran Adi melintas dalam benaknya. Ah, dasar Rahma.
‘Wahai Nabi, katakanlah pada istri-istri mu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri perempuan mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,” Yang demikian itu, agar mreka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.’( Q.S. Al-Ahzab : 59)
By: Arifatun Niswah – 9 Khodijah.





Tegar 
Nada khansa Ramadhany


Haii! Nama ku filana. Aku seorang murid sebuah sekolah menengah pertama di Jakarta. Mungkin bagi banyak remaja, masa-masa remaja adalah masa yang paling menyenangkan. Tapi tidak bagi ku……..
“ihh … serem mah!!” seru andi yang langsung berlindung di balik punggung ibu nya. “kamu kenapa sayang?” “itu mahh , kakak itu wajah nya mengerikan, “
“Ih!!! Lana kenapa kamu nangis??? Kamu cengeng banget sih na !! kamu gak boleh nangis terus.. kamu harus tetep kuat !! okeh?? “
“Lana !!” seru Fita. “hah? Iya? Kenapa fit?” “ngapain tadi kamu ngomong sendirian? Awas tar kesambet , baru tau rasa ! eh eh kok mata kamu merah?” “ah enggak kok , tadi kelilipan hehe” “Yaudah masuk yuk ! “ “oh iya iya”.
“eh eh tau gak? Lana anak 8-a??” “tau tau kenapa dia?” “ih gila jerawat udah kayak peliharaan di muka nya” “oh iya iya betul banget gila jijik banget liat nya” “eh eh tuh orang nya !” “idihh gilaa hari gini jerwatan … sorry ya !” “hahahahahaha” “ihh kabur! Hahaha pengecut dia hahaha” “bagus ! udah sono pergi aja.. urusin tuh jerawat ! hahahaha “
“hhh hhh kenapa ya alloh? Kenapa? Kenapa harus aku ya alloh yang mengalami ini? Apa salahku ya alloh? Hhhhhh hiks hiks ARRGHHH ! hiks hiks”
“Allah telah memilih kamu untuk mendapat cobaan itu, allah saying sama kamu. Dia mau agar kamu jadi orang yang tegar dan kuat”
“tapi nek… Lana selalu di ejek-ejek , Lana selalu di rendahin sama orang-orang nek… Lana capek nek Lana capek…hhhh”
“dari situlah kamu harus mengambil hikmah nya , dari semua ejekkan cacian itulah kamu tumbuh jadi orang yang kuat…. Ingat pesan dari nenek kamu harus tekek budeg”
“tekek budeg? Apaan tuh nek?”
“kamu jangan pernah peduli dengan kata-kata orang yang selalu mencela kekuranganmu, bangkit dan buktikanlah pada mereka bahwa kamu gak cuma punya kekurangan tapi kamu mempunyai sebuah kelebihan yang dapat sedikit menutupi tapi tidak menghilangkan kekuranganmu”

“tapi nek.. apa kelebihanku?” “semangat dan senyum itu kelebihan kamu”
“hahaha nenek bisa aja.. aku jadi semangat lagi nek.. makasih nenekku ter-cintaaa”
“huh! Giliran di puji aja baru bilang nenek ter-cinta” “hahahahaha”
“SEMANGAT!!” “ “SEMANGAT!! Nek tapi jangan lupa senyum nya dong !”
“hahaha iya iya SEMANGAT dan ter SENYUM! Hahaha”
Kadang aku sering lupa , di antara sekian banyak orang yang menghinaku, masi ada orang-orang yang tulus menyayangiku apa adanya… terima kasih ya alloh kau telah memberikanku cobaan agar aku menjadi orang yang kuat. Terima kasih juga karena engkau mengirimku malaikat-malaikat ini untuk menemaniku dan menghiburku dan selalu mengingatkan ku untuk terus semangat dan tersenyum… Terima kasih ya alloh….
Di warnet
“heum cara ngilangin jerawat…cara ngilangin jerawat..nahh ini diaa” “gunakan masker putih telur secara rutin ke wajah anda” “hemm boleh juga tuh”
Di rumah
“Lana ! Lanaaa ! Lanaaa !”  “iya nek?”  “Lana .. muka kamu kenapa ?” “hehe masker putih telor ini nek nama nya ! biar ngilangin jerawat-jerawat” “ckckck ada-ada aja sih kamu” “tunggu nek….. PERIIH PERIIH nenek !!!” “Lanaa Lanaa ..gimana nenek juga bingung harus apa???” “AIR nek AIR !!” “ck ck ck Lana Lana!”
“Lana !! muka kamu di kasi apa lagi???” “oh.. ini masker tomat nek !” “heh! Kok malah makin merah jerawat-jerawat nya??” “HAH??! Iya nek??? , waduhh gawat !” “ckckck ada-ada aja kamu “
Di sekolah
“Heh miss J !!” seru Rika “hahahahahahaha” “gak malu apa, muka lo tuh udah kayak bulan … banyak kawah nya !! hahahaha mana ada cowo yang mau ama lo ! hahaha”
“bisa diem gak sih tu mulut???” akhir nya aku angkat bicara “kalo sirik bilang ! gak usah pake acara ngata-ngatin orang !” “lo mau jerawat ?? neh gue kasih gratis !!” “mentang-mentang muka lo mulus kayak jalan tol, tapi gak usah sombong dong!!” “inget Rik .. kecantikan seseorang gak akan bertahan lama ! dan orang jelek pun gak selamanya jelek terus, ngerti???!!”
Akhirnya Rika dkk. Ngacir terbirit-birit hahahaha . Emang orang cantik aja yang boleh bahagia?? Bahagia sama sukses juga milik orang yang muka nya kayak aku kali….
Aku dapet banyak banget hikmah dari semua ini . Pertama, kita harus tetep sabar sama cobaan yang di berikan sama Allah. Karena dengan cobaan itu kita jadi kuat. Kedua , jangan pernah dengerin ejekkan dari orang-orang di sekitarmu, enjoy and have fun aja dalem hidup dan yang terpenting kamu gak kayak mereka yang kurang kerjaan banget ngejek kekurangan orang lain. Ketiga meski banyak orang yang menghina mu percayalah walaupun hanya sedikit masi ada orang yang mau menyayangimu apa adanya, butalah mereka bahagia sebagai tanda terima kasih darimu atas kasih saying yang tulus kepada mu. Dan yang terakhir…… yakinlah kamu bisa melewati cobaan itu, karena gak selamanya orang akan hidup dalam kesusahan dan penderitaan , suatu hari nanti, pasti keajaiban dan kebahagiaan akan datang padamu…. Teruslah percaya dan menungu kawan ……..
3 bulan kemudian…
“Lana????”
“Oh iya? ada apa?”
“Kamu Lana?? Beda banget???”
Selesai
sahabat ?

Sungguh senangnya dan bahagianya hidup kita jika kita mempunyai sahabat, ya aku mempunyai sahabat yang sannggaatt baik dan perhatian dan juga selalu ada di saat aku membutuhkannya..
Nama sahabatku adalah Alfia Reza Komala, sungguh aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Alfia….
Tetapi kejadian itu telah mengubah semuanya menjadi sangat buruk….
Semua itu berawal dari…

“hay, Alfiaa..!!! “
“hay, juga Sarah.. !!!
“ oh ya, kita jalan jalan yuk.. bosen bangett nihh aku abis ulangan matematika hadduuh susah banget dehh… L
“ ohh ya udah sabar aja cantikk.. J daripada ngedumel mendingan langsung aja yuk kita ke taman biasa kita bertukar cerita.. jangan lupa juga bawa si apple.. oke ??”
“siipp beress udah ada nih di tas aku..”

Kami pun berjalan selama 10 menit dari sekolah menuju Friendship garden. Sebenarnya nama taman itu bukan Friendship Garden tetapi Taman bunga, Friendship Garden adalah sebutan dari kita, karena di taman itulah kita bertemu dan memulai persahabatan. Hal yang biasa kita lakukan di Friendship Garden adalah bertukar cerita dan menulis apa yang kita rasakan hari ini di apple. Apple adalah sebutan untuk buku diary kita bersama. Aku selalu ingin tertawa mendengar istilah istilah yang kita berikan untuk sesuatu yang sangat berkesan.

Setelah kita bermain sepuasnya dan berbagi cerita sepuasnya kita pun pulang ke rumah masing masing, rumahku dan rumah Alfia hanya beda komplek saja. Kita pun sering berangkat sekolah dan pulang sekolah bareng. Jadi tak heran kalau kita terlambat pun bareng. Hahaha.. kocaknya persahabatan ku ini.. sungguh aku ingin kejadian ini terulang kembali..

“wahh ternyata si apple tinggal 1 halaman lagi, harus beli ini .. ya sudahlah besok aku akan membelinya ke toko buku bareng Alfia.. “ gumamku dalam hati


Besoknya…

“ Alfia..!! kita harus beli apple yang baru nih.. “
“memangnya kenapa Sarah ?? “
“ si apple tinggal 1x curhat lagi nih.. “
“ ohh, ya sudah nanti kita beli pas pulang sekolah ya.. oke ? “
“oke deh.. “


Sepulang sekolah….

Aku dan Alfia pergi ke sebuah toko buku dekat sekolah, sebenarnya sih gak dekat dekat banget, kita harus naik angkutan umum sekali.. hehe..
Ini ketiga kalinya kita beli si apple, persahabatan kita baru 2 tahun lamanya.. tapi serunya dan asiknya kayak yang udah 5 tahun sahabatan.. hohoho.. lebaynya saya..

Sesampainya di toko buku…

“ Sarah..!! mau yang mana nih ?? bagus bagus semua.. bingung jadinya.. “
“ iya nih aku juga bingung, Al !!“

Akhirnya setelah 10 menit kita mempertimbangkan dan memilih milih. Kita pun memilih apple yang berwarna biru muda campur ungu gitu deh.. lucuuu bangeet pokoknya..  J

“Al, aku masih mau nyari buku lagi..”
“ya sudah cari saja.. aku tungguin.. “
“beneran nih gak apa apa ?? “
“ gak, sok aja, Sar 

Selagi aku memilih milih..

“Sar, aku mau keluar dulu ya.. ada kucing lucu aku mau temenin dia dulu ya.. oke ? “
“hahaha dasar Alfia, kalau kucing cepet banget deh responnya…ya udah temenin tuh kucingnya..”
“oke deh, makasih ya Sar, aku keluar dulu..”
“sama sama”

Setelah mendapatkan buku yang aku cari, aku pun membayarnya ke kasir.
Waktu aku sedang mengantri di kasir, terlihat oleh ku banyak orang yang sedang mengerumuni sesuatu.
Aku pun langsung mendekati kerumunan itu, dan aku sangat terkejut ternyata..

“alfiaaa..!!!!!!” teriakku histeris sambil menangis dan mendekati tubuhnya yang penuh darah


Segera ambulance datang dan menuju rumah sakit..
Langsung saja Alfia dibawa ke ruang UGD.. aku langsung menelfon orang tua Alfia.
10 menit kemudia orang tua Alfia pun datang….

“ apa yang terjadi Sarah ? “ Tanya mamah Alfia penuh cemas
“ tadi itu.. “
“jadi gini tante, tadi Arya melihat Alfia sedang bermain bersama kucing, tiba tiba saja kucing itu lari, Alfia langsung ngjar, tetapi Alfia tidak sadar kalau ada mobil yang sedang melaju kencang. Dan saat itu juga, Alfiaa… langsung tertabrak.. “ jelas Arya yang melihat kejadian itu.

Langsung saja diriku dan orang tua Alfia terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit..
Aku sangat cemas dengan keadaan Alfia.. aku takut terjadi apa apa sama diri Alfia. Aku belum sanggup kalau harus kehilangan sahabat.
Tiba-tiba dokter keluar..

“dok, gimana kabar anak saya dok ? “ Tanya mamah Alfia
“ Alfiaa.. eee… Alfiaaa… “ 
“ apa dok ? kenapa dengan Alfia ? “
“ Alfia terkena.. “ ucap dokter dengan ragu
“ apa dok ?? cepat katakan!! “
“ Alfia terkena amnesia parah bu, akibat benturan di kepala yang cukup hebat. “ ucap dokter
“ apa ? amnesia parah dok ?? “ aku terkaget

Aku kaget sangat kaget, aku takut dia lupa akan semuanya, lupa tentang dirinya, lupa tentang kehidupannya. Aku sekarang hanya bisa berdoa dan berharap semuanya akan baik baik saja.
Kemudian, aku pamit kepada orang tua Alfia untuk kembali ke rumah.
Besok pasti aku akan menjenguk Alfia lagi sepulang sekolah.

Besoknya setelah pulang sekolah…
Aku menjenguk Alfia dan membawa semuabarang barang yang bisa membantu Alfia untuk bisa mengingat sedikit sedikit kehidupannya kembali. Aku berharap ini semua bisa membantu. Aminn.. J

Sesampainya di rumah sakit aku langsung menuju kamar dimana Alfia dirawat.

“Alfiaa….!!!! “
“ siapa ya ? 
“ ini aku Sarah.. sahabat kamu.. J
“ Sarah ? sahabat ? kapan ? saya gak kenal kamu ! “
“ iya, kamu itu gak kenal aku karena kamu terkena amnesia, Al “
“ tapi aku gak kenal kamu..!!! “
“ kamu ingat apple ?  ingat garden friendship ? “
“hahaha nama yang aneh “ ucap Alfia melecehkan
“ kamu kok gitu sih ? itu kan kita bersama yang buat nama itu..! “ucapku penuh kesal
“apa kata kamu ? bersama ? kenal kamu aja gak..!! “
“Alfiaa kamu … “
“apa ?? aku kenapa ? hahaha sudah sana keluar..!! mengganggu.!! “
“ya sudah aku tinggalkan apple disini.. biar kamu ingat semuanya “ ucapku sedih campur marah
“gakk.!! Buku lusuh kayak gitu mau dikasih ke aku ? miskin..!! “ bentak Alfia
“Alfiaa..!! aku gak nyangka ya kamu kayak gini..” ucapku kesal
“ hahaha.. “

Aku pun keluar dengan membawa kembali apple. Perasaanku sungguh sakit. Aku gak nyangka Alfia kayak gitu.. mungkin emang harus butuh proses. Aku harus sabar. J
Hari berikutnya dan berikutnya aku terus mencoba dan mencoba lagi. Tapi hasilnya nihil yang ada aku hanya dibentak dan dimarahi, dan aku bertekad cukup sampai hari ini saja aku datang.

Aku pun memberanikan diri untuk masuk ke kamar Alfia.
Alhasil dia marah marah lagi..
Ya sudah niatku hanya ingin memberikan apple ke dia..
Aku sudah menamatkan 1 lembar yang hampir habis itu dan sekarang sudah habis..
Dan Alfia pun menerimanya…

“Sarah.. tunggu.. aku ingin membaca ini semua…”
“iya silahkan saja..” kataku lemas


Alfia pun mulai membaca..
Dan ternyata dia …..

“hahaha kata kata murahan..!!! “ sambil membanting si apple
“maksud kamu apa sih, Al ?
“iya.. bahasa lo rendahan !!! “ tertawa

Aku pun meninggalkan Alfia, dengan hati yang sungguh amat sangat benci..

“jangan pernah ya lo datang ke sini lagi !! “
 “iya.. karena gue gak bakalan mau liat muka lo lagi..!! bentak ku
“ hahaha.. emang gue mau apa ? “

Aku pun membanting pintu kamar rawat Alfia..
Aku pun langsung berlari sambil menangis menuju friendsip garden.
Aku duduk termenung dan membaca kembali apple dan membuangnya.
Aku sudah ingin melupakan persahabatan yang sangat amat menyakitkan….


            Karya  : Ayu Rizka Pratiwi
IX Maryam

Sahabat
Siti Utami

 “Bangun-Bangun ayo cepetan-cepetan ke masjid solat subuh,nanti kamu telat loh”,salah satu temanku membangunkanku dari mimpi.Ketika kuingat-ingat hari ini aku kesiangan lagi,selalu seperti ini sih setiap hari senin seingatku aku selalu bangun setelah azan subuh padahal malam sebelumnya aku sudah berniat untuk bangun sebelum  shubuh,banyak yang mau kulakukan shaum senin kamis misalnya atau untuk qiamiullail,jadi hari ini aku ga sempat untuk melakukan keduanya.Pagi ini aku sudah merasa lemas rasanya kecewa gitu ga bisa bangun pagi-pagi di hari senin.Buru-buru aku pergi masjid berharap aku ga telat soalnya,kalau sampai aku telat hukuman untuk jadi penulis akan menungguku ,kalau dah kayak gitu males deh rasanya (Menulis satu halaman al-qurankan lumayan)

   Selesai solat aku langsung pergi ke bangsal untuk mandi, harus langsung soalnya kalau tidak bisa gawat selain telat ,bisa-bisa nanti aku kehabisan air.sehabis mandi aku langsung bersiap-siap memakai seragam menyiapkan buku merapikan kamar dan jangan lupa untuk piket setelah semuanya selesai baru bisa beranjak ke sekolah.Agenda hari senin itu padat banget, cape yang pasti nyasih bikin males banget.Agenda ini di awali dengan tahfiz pagi baru setelah itu aku belajar di sekolah sampai nanti siang jam setengah dua.Di sekolah rasanya ga ada yang menarik berjalan begitu saja hingga bel yang di tunggu-tunggu berbunyi TET..TET..TET...akhirnya pulang juga.Semua orang langsung berhamburan ke luar dari kelas masing-masing berjalan menuju asrama.

   Hari ini panas sekali meskipun sudah jam setengah dua siang, matahari hari ini sangat terik ingin rasanya langsung sampai di kamar,walaupun jarak dari sekolah ke asrama tidak terlalu jauh.Aku jalan bertiga denagn kedua sahabatku, Noni dan Moni,”ngomong-ngomong pesiar ini kalian pergi kemana?” tanya Moni kepadaku dan Noni.”kalau gue sih ga tau bingung ga mau banyak berharap soalnya gue juga belum ada yang jemput”jawabku lalu Noni juga berkomentar”iya nih gue  juga bingung harus ke mana soalnya ortu gue mah pasti ga bakalan jemput kalau cuman pesiar katanya ngabisin waktu di jalan emang sih rumahnya di bekasi di jalan aja dah ngabisin waktu 4 jam sedangkan pesiar cuman satu hari bikin cape aja”.”aha aku punya ide gimana kalau pesiar ini kita main bareng ke rumah kamu” Moni menunjuk ke arahku,sadar aku di tunjuk akupun spontan berkata”hah...ke rumah aku? Mmm gimana ya soalnya rumah aku mah kecil lagian ga tau jugakan ada yang jemput atau engga? “ sponta Noni dan Moni menjawab”enggak ko gamasalah mau rumah kau gede kek atau kecil kek itu mah ga masalah”.aku berpikir kalau di pikir-pikir sih seru juga”ya udah deh nanti aku tanya dulu”.horeeee.. mereka pun bersorak gembira.

   Sore harinya di atas kasur Noni kita ngobrol-ngobrol seperti biasa, karena sudah terlanjur semangat sama rencana pesiar, kita ngomonging kegiatan yang bakalan kita lakukan nanti ketika kita pesiar bareng,sekian lama mengobrol akhirnya semua sudah di rencanakan dari mulai tempat-tempat yang akan kita kunjungi sampai kostum yang bakalan kita pake semua perpect padahal pasti atau engaknya kita pesiar bareng aja belum pasti.  Moni...Moni.. Tiba-tiba Moni di panggil oleh salah satu teman nya keluar kamar , katanya sih ada urusan penting banget,akhirnya aku dan Noni di tinggal berdua dan Moni pergi entah kemana bersama temannya.
   Ketika malam harinya aku pergi ke kamar Noni, ternyata disana sudah ada Moni ia sedang mengobrol bersama aku pun bergabung,terlihat oleh ku wajah Moni yang sembab dan lagi BT mungkin ada sesuatu yang terjadi pada saat ia tadi pergi bersama temannya.tapi aku tidak mengambil pusing menunggu Moni yang cerita kepadaku dahulu.

   Di tengah acara ngobrol kami,aku ingat aku belum belajar untuk ulangan harian bahasa indonesia besok,aku memutuskan untuk belajar di kamar Noni supaya ada yang menemani gitu,, karena aku berbeda kelas dengan mereka berdua aku pun belajar sendiri di temani mereka yang mengobrol.beberapa waktu kemudian aku mendengar Noni bertanya kepada Moni”tadi sore kamu ke mana?”lalu Moni menjawab”enggak ga pergi kemana-mana”sepertinya Noni sangat penasaran maklum, Noni sama Moni memang sangat dekat setiap rahasia Moni Noni pasti tau jadi kalau ada satu hal yang dia ga tau penasarannya bukan main“Emang ngapain sih kayaknya rahasia banget?” ujar Noni sekali lagi dengan nada yang sedikit memaksa,”ga kok ga ada apa-apa lagian kalu ada sesuatu aku juga ga bisa kasih tau kamu”Noni jadi makin penasaran ada apa sih”kalo ada sesuatu kasih tau dong!” “Moniku ini menyangkut rahasia temen aku juga lagian nanti juga kamu bakal tau apa masalahnya,masalah ini ga mungkin aku sembunyiin sama kamu jadi sabar aja pasti aku kasih tau”nada bicara Moni juga sudah mulai kesal,”ya udah sekarang waktunya udah tepat kok,,, kasih tau dong ayo kasih tau please? ya?ya?”Noni maksa lagi ,hari ini emang kayaknya Moni lagi BT tiba-tiba iya membentak Noni”GA BISA NONI SABAR DONG!!!!!” terlihat wajah Noni kaget ia langsung merespon perkataan Moni denagn bentakan yang ga kalah dahsyat”Dasar lo? Meskipun gue maksa jangan bentak-bentak dong!”Noni emang paling ga bisa di bentak.”benci gue di bentak-bentak”lanjutnya lagi.Moni yang sedang BT itupun membalas lagi”OK kalo lo benci gue,emang gue ga kesel sama lo?!”Moni pergi keluar kamar .
     Aku yang sedari tadi belajar masih cuek sama pertengkaran mereka,mereka emang sering berantem paling besok pagi mereka baikan lagi. Aku lanjutkan belajarku malam itu.
     Ternyata prediksi aku salah mereka belum baikan sejak pertengkaran itu,hampir dua hari mereka bertengkar dan saudara-saudara tahu kah anda karena Noni sedang bertengkar bersama Moni, akulah yang menjadi korban kejahilan Noni ,Noni itu jahilnya emang ga ketulungan, tapikan kalau biasanya,kejahilan Noni di bagi dua buat aku sama buat Moni sekarang karena Noni lagi marahan sama Moni jadinya semua kejahilan itu murni buat aku semua Hiks..hiks.. . Aku di ganggu habis-habisan dia jadi sering banget main ke kamar aku padahal biasanya yang sering main itu aku ,ke kamar Noni .tapi di balik semua itu aku bisa melihat wajah Noni emang rada kesepian maklum yang paling sering berkunjung ke kamar Noni itu ya Moni,Karena kasian sama Noni, aku sebagai sahabat yang baik menerima nasibku menjadi pelampiasannya.
   Hari ini tanggal 15 November ada seorang sahabat Moni yang ulang tahun .Ketika sore hari tiba aku melihat anak kamar Moni mempersiapkan sebuah kejutan untuk teman kamarnya yang sedang ulang tahun itu. Aku melihat mereka membawa seember air yang sudah di masukan berbagai bahan dari mulai tanah sabun,sampo sampai susu basi ( menjijikan)  ke tengah lapangan,setelah beberapa waktu akhirnya kejutan itu sukses di jalankan aku melihat temanku yang sedang ulang tahun itu di siram oleh air ramuan itu. Alhasil mereka jadi siram -siraman semua anak kamar Moni basah kuyup.
    Azan magrib berkumandang anak kamar Moni itu pergi ke bangsal,begitupun dengan aku,aku dan Noni pergi ke bangsal untuk berwudhu.Di bangsal ketika aku berjalan bersama Noni aku di peluk oleh Moni yang saat itu sedang berada di bangsal “aku sayang kamu” katanya kepadaku aku terheran-heran baru aku sadar ternyata Moni kan basah kalau aku di peluk olehnya berarti nanti aku bisa basah juga spontan aku berkata “ihh Moni jangan peluk - peluk jijik tau ,peluk juga dong Noni “ucapku sekalian berusaha untuk mengakurkan mereka .Ternyata benar Moni mengikuti perintahku mungkin ia juga tidak enak berlama-lama memusuhi Noni Moni menghampiri Noni yang sedang berjalan Meninggalkan ku karena tadi aku sedang mengobrol dengannya “aku juga sayanggg banget sama Noni maafin aku ya ? Waktu itu aku Lagi emosi”katanya dengan nada merajuk manja. Noni berkata “iya-iya aku tau tapi ga usah peluk-peluk juga kali aku tau waktu itu aku emang salah maafin aku ya ,kita pelukannya nanti aja ya kalau kamu dah mandi aku harus solat “Sambil senyum-senyum Noni meninggalkan Moni di bangsal untuk solat magrib.Akhirnya berbaikanlah mereka coba dari dulu ada salah satu dari mereka yang meminta maaf aku yakin mereka sudah berbaikan dari dulu mereka kayaknya cuman termakan gengsi untuk meminta maaf.
    Esok harinya semua kembali normal Noni dan Moni sudah berbaikan . Hari itu aku teringat rencana kami semua untuk pesiar bersama .Malam harinya ku menelepon orang tuaku untuk meminta izin , bisakah orang tua ku untuk menjemput ku hari minggu nanti.aku pergi ke kamar bunda untuk menelponku
                 ~bu tlpn aku ya cptn penting bgt~
                                    Your lovely daughter
Itu pesan ku supaya cepet gitu di teleponnya,dua menit kemudian ibu meneponku”ada apa sih kayaknya penting bgt?”tanyanya dengan nada sedikit khawatir “hehe gini bu aku sama temen aku mau pesiar tuh nah temen- temn aku mau main ke rumah boleh ga bu”kataku langsung ke topik pembicaraan “boleh tapi kamu mau ke sini sama siapa emang ada yang jemput kamu apa?”kata ibuku”yah.... ibu baik deh tanya ayah dulu deh ayah bisa ga jemput aku,kalo ayah pasti bisa jemput”kataku sedikit memaksa.”iya deh tunggu sebentar,ibu tanya dulu ayah”ibu mengalah,beberapa menit kemudian “hei.. kata ayah bisa aja sih tapi ayah paling suruh supir kantor untuk jemput kamu ga apa-apakan lagian kamu juga sama temen kamu ya udah kalo gitu nanti berarti ibu harus masak apa kalau ada temen kamu?”aku berpikir sejenak “apa aja deh bu asal harus enak ya udah kalo gitu makasih ya bu assalamualaikum....”ibu menjawab “waalaikumsalam”.

    Akhir hari itu berakhir bahagia esok aku akn memberi kabar gembira untuk moni dan Noni.Pagi pagi sekali ketika solat subuh berakhir aku pergi menemui moni”Mon aku bisa di jemput loh sama ortu ku minggu ini .gomana asik kan??” tanya ku semangat .tapi pernyataanku itu malah membuat ekspresi muka moni ber ubah drastis deg.. aku jadi herang apa aku salah ngomong ya harusnya ini kan jadi berita bagus buat Moni “mmm.. gima bukannya aku ga seneng sih tapi ada hal yang aku sembunyiin yang kamu ga tau “ aku malah tambah bimgung yang mana masalah pa sih, “masalah apa sih? Lalu Moni menjawab “ ini berkaitan sama masalah aku yang waktu itu loh masalah yang buat aku berantem sam Noni” oh iya aku baru sadar ,lalau maoni berkata lagi”Nanti aja deh aku kasih tau kamu di sekolah ya sekalian kasih tau si Noni” ia pergi meniggalkan aku yang masih penasaran masalah apa sih ,mana dia juga belum kasih tau aku jadi ga dia ke rumah ku maksud aku awalnya kan untuk bertanya soal itu.
Di sekolah saat istirahat di pojok kelas Moni aku ,Noni dan Moni sedang berkumpul .semuanya masih diam dan moni membuka pembicaraan kita,”mmm.. gini aku mau minta maaf sama kalian sebelumnya gini aku kayaknya harus langsung ke titik pembicaraan kita aku itu kena sebuah kasus sebenernya kasus ini dah lama banget tapi entah kenpa baru sekarang ni kasus di bahas belum pasti juga sih apa hukuman nya paling baru nanti sore aku harus menggadap komdis buat nentuin apa hukuman nya mudah-mudahan sih ga di SP”Noni terlihat kaget iya langsung berkata”emang masalah tentang apa sih ? siapa aja orang-orang yang kena?” Moni menjawab “ga cuman aku paling ada sekitar sepuluh orang yang di panggil tapi ga semuanya masalahnya sam ada yang beda  jdi gini ceritanya.......”berceritalah Moni tentang masalahnya hinga Bel tanda istirahat berakhir berbunyi tet.. tet.... tet..”yah mudah- mudahan hukumannya ga berat dan aku masih boleh ke kuar asrama “di akhirilah penbicaraan itu dengan sebuah harapan kita bisa pesiar bareng.

     Setelah solat magrib aku pergi ke kamar Noni aku sempat mengobrol sedikit dengannya tiba-tiba Moni datang dan langsung memeluk Noni yang sedang berada di atas kasur aku dan Noni kaget apa hukuman untuk kasus Moni berat? T,terdenagr suara isak Moni di pelukan Noni,Kita berusaha menenangkannya setelah beberapa saat ia mulai berbicara”aku ga kena Sp kok tenang aja “ia berkata seolah dia tau apa yang aku sedang pikirkan “aku ken hukuman ga boleh keluar asrama sampai semester ini berakrir aku juga harus membersihkan asarama ini selama 1 minggu denagn baik kalo ga hukuman ini bisa di tambah “,”ya udah ambil sisi baiknya aja untung kamu ga kena SP “aku berkata untuk menenangkan Moni “ia langsung berkata”tapi rencanakita buat pesiar bareng gagal dong aku ga bisa ikut” Noni menjawab “ga masalah kok kita batalin aj rencana tu kita temenn kamu disi “ Moni langsung menjawab” ga apa-ap kok kalian ga boleh batalin rencana kalian harus tetap pergi semua udah siapkan aku ga apa-apa kok di sini ga masalah “katanya.”ya udah kita tetep pergi nanti aku beliin kamu oleh-oleh deh”kata Noni “iya” kata Moni sambil tersenyum.

    Akhirnya hari itu tiba hari sabtu ini aku dan Noni akan pesiar tanpa Moni masih sedih rasanaya tapi mau gimana lagi semua udah siap udah di erncanakan jauh-jauh hari.Hampir semua orang pergi dari asrama maklum jadwal pesiar tidak boleh du sia-siakan sehabis zduhur asrrama sudah sepi mungkin para orang  tua sudah tidak sabar untuk bertemu anak-anaknya,kasian Moni sam teman-teman yang lagi di hukum ga bisa pulang atau main.

   Jam 1 siang ini aku sudah di jemput sebelumnya kami sudah sia-siap jadi begitu aku di jemput aku langsung memberi tau Noni sebelum berangkat tidak lupa aku berpamitan dengan Moni .”sabar ya Mon kita pasti bawa oleh –oleh buat kamu” kata Noni tapi Moni hanya tertawa “santai aja kalinikmatin tuh pesiarnya” Moni mengantar kita ke pintu mobil “dahh ....”seru aku dan Moni sampe ketemu besok.
   Banyak yang kami lakukan di rumah ku yang pasti harus happy hari minggu itu sebelum pulang kami tidak lupa untuk membeli oleh-oleh buat Moni ,kami mampir dulu di mal damn akhirnya setelah memilih-milih aku dan Noni memutuskan untuk membeli sebuah kaos pendek yan lucu pastinay untuk Moni.”Midah-muadahan Moni suka “ ujarku dam Noni bersamaan.Sore hari setelah berjalan-jaln kami pulang ke asrama sekitar pukul7 malam kita sampai di asrama.
  Ternyata di balkon ada Moni sedang mengobrol bersama teman nya “hei.. kalian akhirnya pulang juga kok baru sampe malm . Mana nih oleh-olehnya ?”iya langsung membanjiri kami dengan peranyaan-pertanyaannya “ “ia iya sabar kita beli kok buat kamu gimana kalau kamu liatnya di kamar Noni aja”.
  Dikamar Noni, Noni langsung membongkar barang bawaan soalnya Moni sudah tidak sabar.ia memberikan baju itu ketangan Moni “Nih oleh-olehnya suka ga?” begitu melihat Moni tersenyum “kalin baik deh kalin emang sahabat akusebenernya tanpa di kasih oleh-olehpun aku dah seneng ngeliat kalisn seneng”Terharu mendenagr perkataan Moni, Noni pun langsung memeluk Moni aku pun tidak mau ketinggalan aku ikut memeluk Noni dam Moni dan acara peluk-pelukan itu berlangsung agak lama.ternyata semua ujian itu memang ada hikmahnya membuat kita sadar kalau sahabat itu harus saling mengerti satu sam lain .persahabatan kita semakin  ERAT.

~the end~




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar